HENTIKAN IMUNISASI

Stop Kill Indonesian's Kids with Vaccine

GUNUNG KAPUR MELEDAK

Prediksi 7 s.d 10 Juli 2016

13 Permintaan Anak

Permintaan Yang Tak Pernah Diucapkan

Ice Cube

Convert Into Muslim

Kamis, 29 November 2012

BARANG-BARANG AMANAH SOEKARNO

Harta Raja-Raja Nusantara



                      
Pada awal abad 17 aset harta raja-raja dan kesultanan nusantara seperti Cirebon, Galuh Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut, Ternate, yang bernilai ratusan trilyun USD dalam bentuk emas, logam mulia, berlian, dsb disimpan di Bank Zuchrigh – Jerman dengan alasan karena saat itu Jerman adalah negara makmur dan menguasai dunia. dan bank tersebut adalah salah satu bank yang tertua di dunia 

Pada tahun 1620 nusantara dijajah oleh Belanda  selama 3,5 Abad, kesultanan dan raja-raja nusantara yang melawan Belanda data administrasi hartanya dihancurkan, tetapi tidak berlaku bagi Kerajaan Amangkurat I yang tetap memiliki data utuh karena mereka menjilat belanda. Salah satu bukti Amangkurat I sebagai penjilat Belanda adalah Pangeran Girilaya – Raja Cirebon II selaku menantu dari Raja Amangkurat I, atas tipuan – Undangan Makan – ternyata Raja Cirebon II beserta kedua putranya yang berumur 11 & 9 tahun ditahan selama 10 tahun, hingga wafatnya Raja Cirebon II yang dimakamkan di Girilaya. Atas wafatnya Raja Cirebon II, Sultan Trunojoyo diutus untuk menjemput kedua putra mahkota tersebut untuk menggantikan tahta Kerajaan Cirebon. Dgn melalui peperangan, akhirnya Trunojoya berhasil membawa Putra Mahkota yg tak lain adalah adik adiknya. Sedangkan Putra Mahkota yang pertama/kakaknya, diamankan oleh paman dari ibunya ke Gn. Lawu. Hingga akhirnya berdiri Kerajaan Cirebon mnjadi dua kesultanan, yaitu KANOMAN & KASEPUHAN. 

Pada tahun 1939, Amerika mengakali “Bung Karno” untuk menata aset-aset raja-raja nusantara dan pengalihan hak atas nama pribadi Soekarno, penyerahan hibah rekayasa dilakukan oleh raja Solo dan Yogya yang Mengatasnamakan raja-raja nusantara. dan aset kedua raja itu tidak dihibahkan alias masih utuh sementara para ahli wsaris raja- raja nusantara sepeserpun tidak menerima hak waris.

Tahun 1944 berdirilah BANK DUNIA atas dasar coletral aset raja-raja nusantara dan Bank Duniapun mulai memberikan pinjaman kepada 40 negara,semenjak itu AS semakin kuat untuk mencetak uang dan menyusun strategi persenjataan untuk menguasai dunia.

Tahun 1945 PD II. Jepang menyerah memberi kemerdekaan, beberapa fakta mencatat 
  • Bung Karno dalam salah satu pidatonya pernah berkata “..kalau Jepang tidak memberikan kemerdekaan kepada kita, maka saya akan minta AS utk mem-bom Jepang..”
  • Bung Karno diangkat Jadi KETUA PBB, Bukankah pada waktu itu orang asing banyak yang lebih pintar dari Bung Karno? “TIDAK ANEH ”. Karena berdirinya Bank Dunia berasal dari aset raja nusantara. Sampai saat ini tidak ada jabatan Ketua PBB selain Bung Karno, yang ada hanyalah SEKJEN 
  • Kalau Bung Karno JUJUR & BENAR, Harusnya mengumpulkan Sultan dan raja-raja  Nusantara untuk diberi tahu kalau Buyutnya (Raja Nusantara) pada Abad 17 telah menyimpan harta Bank Juchrigh-Jerman. mengapa Bung Karno BUNGKAM?.? 
Antara thn 1950 -1953, Bung Karno memberikan pelimpahan coleteral kepada kolega & keluarganya, yang berasal dari aset raja-raja nusantara yang dihibahkan atas nama pribadi Bung Karno. Sekarang sudah di balik nama semua. 

Tahun.1954 sebagian dari sisa dana koleteral tersebut dibagi-bagikan dalam bentuk AMANAH kpd 73 orang tokoh negara dan ulama, dikarenakan ada kepentingan politik praktis pada tahun 1955 melalui Pemilu pertama Bung Karno diangkat sebagai presiden “SEUMUR HIDUP"

Penerima pelimpahan coleteral mendapatkan royalti, namun pemegang amanah tidak mendapatkan royalti. siapakah yang menikmati royalti atas dana coleteral dari Bank Dunia? siapa lagi kalau bukan kolega & keluarganya.

Perlu Pendirian “LEVARN” / Lembaga Executive Verifiksi Aset Raja Nusantara maksud dan tujuannya: atas tersimpannya aset raja-raja nusantra, baik milik raja/kesultanan: Cirebon, Galuh Pakuan, Banten, Deli, Riau, Kutai, Makasar, Bone, Goa, Luwut,Trnate yang disimpan pada awal abad 17 di Bank Zuchrigh – Jerman dengan nilai ratusn trilyun USD yang telah dihibahkan ke Ir.Soekarno (Rekayasa AS), untuk modal awal pembentukan BANK DUNIA, kini sudah balik nama a/n keluarga & Coleganya (di luar amanah). harus diverifikasi / tata juridis formil untuk ketetapan hak bagi ahli waris dan negara. Dalam pertemuan para sultan seIndonesia di Bali beberapa tahun lalu, para Ahliwaris mengharapkan keadilan hak atas harta yang digelapkan. 

Mengapa Bung Karno keluar dari PBB dan pidatonya antara tahun 1959 s/d 1963, Berapi-api anti imperialis, Anti Nekolim? itu dikarenakan coleteralnya tidak bisa dicairkan dan tidak bisa digunakan untuk pembangunan NKRI sesuai dengan Rapelita yang telah diprogramkan karena dipersulit AS.

AS berkepentingan untuk membungkam Bung Karno, selain krn alasan dana coleteral tersebut, juga karena Bung Karno membentuk "Poros Segitiga",  Peking-Jakarta-Pyongyang. selanjutnya melalui konspirasi dan  tipu daya AS bertindak mendalangi lengsernya Bung Karno. Tiga org jendral yang terlibat dalam gerakan bawah tanah buatan AS datang &dan menodongkan senjata kepada Bung Karno untuk menandatangani SUPERSEMAR. yang kemudian isi supersemar itu dipalsukan lalu diserahkan kpd Soeharto. Soeharto tidak mengetahui tentang pemalsuan tersebut dan menjalankan supersemar dengan baik. Beliau baru mengetahui hal tersebut sekitar tahun 1980an, namun sudah terlambat.

Sekitar Th. 1995, datang 7 orang pemegang surat amanah dari Soekarno menghadap Soeharto agar pemerintah dapat menggunakan dana coletral tersebut utk pembangunan RI. Dana yang ada di Bank Dunia tidak dapat dicairkan, namun dapat digunakan untuk jaminan cetak uang. Soeharto mengajukan ijin utk pencetakan IDR atas jaminan dana coletral tersebut.

Dilakukan Sidang Moneter Internasional, dengan salah satu agenda untuk membahas rencana pencetakan IDR oleh pemerintah RI. 10-negara menolak utk memberikan ijin (termasuk AS & sekutunya), sisanya mengijinkan. Atas dasar voting, maka pemerintah RI diijinkan untuk mencetak uang sebesar “Rp. 20.000 trilyun” dengan jaminan 5 Coletral (salah satu coletral adalah milik kerajaan Cirebon sebesar 13.000 trilyun). AS tidak memberikan ijin, karena khawatir Soeharto akan membangkitkan DUNIA ISLAM. Karena tahun 1987 Yayasan Amal.Bakti.Muslim.Pancasila sudah mulai merintis dan menggalakkan bantuan untuk pembangunan masjid di seluruh Indonesia. Mbak Tutut sudah mulai memakai kerudung dan dianggap sebagai simbol kebangkitan dunia Islam.

Pencetakan uang dilakukan di Jerman dan Israel (pemenang tender adalah Australia). Disisi lain AS & sekutunya mulai melakukan konspirasi utk merusak stabilitas ekonomi internasional.

Maret 1997, secara bertahap IDR sudah mulai masuk ke Indonesia masih berstatus atas nama Amanah yang ditempatkan di luar gudang BI, baru sekitar 9% IDR tersebut yg diregristasi oleh BI, terjadilah KRISIS MONETER karena George Soros melakukan transaksi pembelian rupiah secara besar-besaran yang dibayar dengan USD. IDR dicetak dalam cetakan uang plastik pecahan Rp.100.000,- thn cetakan 1997.

Tahun 2000 Pak Harto membuat pondasi sebagi landasan kuat dlm pembangunan tinggal landas untuk take off menuju ADIL & MAKMUR. Thn 2002 Pak Harto berencana utk mengundurkan diri dan dilanjutkan oleh wakilnya Try Sutrisno sbg presiden.

AS semakin gencar melakukan konspirasi, sadar ataupun tidak sadar banyak unsur masyarakat yang sudah masuk dalam tipu daya dan skenario AS.
Banyak mahasiswa, rakyat yg merasa idealis dan menuntut lengsernya Soeharto. Namun sesungguhnya mereka tidak sadar bahwa ini semua adalah skenario AS utk menurunkan Soeharto.
Terjadinya kerusuhan mei, yang dikoordinir oleh seorang tokoh pemuda atas cetakan SMAG (tokoh politik boneka bentukan AS).
Soeharto lengser & BJ Habibie menjabat sebagai presiden RI.
Semua IDR pada akhirnya sampai di Indonesia, Pak Harto memerintahkan 49 orang jendral (7 orang jenderal bintang 4 & 42 orang jenderal bintang-2) untuk mengamankan gudang gudang IDR yang masih berstatus atas nama Amanah.

 BJ Habibie dipolitisir oleh AS untuk realisasi referendum di Timor Timur, dengan janji apabila terlaksana dengan ‘JUJUR & ADIL’ maka Habibie akan didukung untuk menjabat sebagai Presiden RI utk selanjutnya. Hasil jajak pendapat dimanipulasi karena dihitung di Gedung.Putih-AS, tidak dihitung di lapangan) yang akhirnya berujung pada lepasnya Timor Timur dari NKRI. Habibie ditipu politik praktis, karena Habibie sejatinya bukan orang misi AS, melainkan Habibie adalah Jerman-isme.

Rapuhnya Pemerintahan RI & sebagian besar tokoh tokoh negara yang terlibat dalam dosa “KERUSUHAN MEI”. dan AS memgang kartu tokoh tokoh tersebut dan mereka dengan leluasa mendikte pemerintah, bisa dikatakan,semenjak itu Pemerintahan hanya menjadi boneka AS 
Kebenaran ini dituliskan bukan utk menyudutkan pihak-pihak tertentu, tapi untuk mengungkapkan sebuah kebenaran.
Rapatkan barisan, jangan mudah diadu domba oleh AS dan sekutunya. tumbuhkan jiwa patriotik kita, karena bisa jadim melalui konspirasi AS apa yang terjadi di IraK dan Afganistan terjadi di tanah air kita tercinta.

Rabu, 28 November 2012

Ahmadinejad adalah Yahudi

Di dunia sekarang ini, hanya ada tiga nama yang sering sekali melekat di kaos oblong dan buku-buku pergerakan. Usamah bin Laden, Che Guevara, dan Mahmoud Ahmadinejad. Usamah sejak sekitar tahun yang lalu telah diberitakan tiada, tewas oleh Amerika, namun tentara-tentara Negara Paman Sam itu masih terus berada di Afghanistan dengan dalih yang sama; memberantas teroris.  

Sedangkan Che Guevara, walau tidak sekencang dahulu, namun sosoknya begitu lengket di benak dan ideologi para kaum gerakan kiri. Walau satu dua, Che selalu ada dimana-mana.
Sosok satu lagi adalah Ahmadinejad. Dalam kurun waktu 8 tahun belakangan ini Ahmadinejad tiba-tiba saja “digilai” oleh begitu banyak para pemuda Islam. Ia dianggap sebagai cerminan seorang pemimpin yang sederhana dan bersahaja, taat terhadap ajaran agamanya. Yang paling penting, Ahmadinejad dianggap sangat vokal terhadap Amerika Serikat dan Israel—dua negara yang selama ini dianggap sebagai pihak yang selalu berseberangan dengan Islam.
Akhirnya, para pemuda Islam ini menapikan kenyataan bahwa Ahmadinejad adalah seorang presiden Iran. Dan presiden Iran kita tahu, ia harus seorang Syiah. Selama ini, media Barat memposisikan bahwa Syiah adalah salah satu aliran atau sekte dari Islam. Padahal kenyataannya, Syiah ya Syiah. Islam ya Islam. Keduanya berbeda sangat dalam secara ideologis dan pemahaman.
Satu persatu para pemuda Islam yang mulai memahami peta Iran di Timur Tengah, dan bagaimana hasadnya Syiah terhadap Islam—tak peduli darimana Islam itu berasal, baik Sunni ataupun lainnya, mulai meninggalkan Ahmadinejad sebagai sosok panutan. Yang tersisa dari para pengagum Ahmadinejad kemudian hanya dua kelompok saja. Pertama, mereka yang juga menganut Syiah sebagai keyakinan. Kedua, para pemuda yang tak membaca banyak tentang kongkalingkong Iran-Amerika-Israel.

Siapa sebenarnya Ahmadinejad ini?
Menjelang pemilihan umum Maret 2008, ada sebuah berita yang mengejutkan. Telegraph.co.uk—harian berita dari Inggris—memuat sebuah foto Ahmadinejad sambil mengangkat kartu identitasnya selama pemilihan umum. Entah bagaimana, kartu identitas itu tercium memiliki akar Yahudi. Berita itu kemudian menjadi bahan sorotan khusus sejumlah media di Indonesia.
Menurut klaim Telegraph, dokumen close-up itu mengungkapkan bahwa Ahmadinejad sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian—atau artinya kurang lebih tukang kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi. Telegraph, melaporkan, sebuah catatan pendek yang tertulis di kartu itu menunjukkan keluarganya berubah nama menjadi Ahmadinejad, ketika memeluk Islam setelah kelahirannya. Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad, dan nama itu diturunkan dari “penenun dari Sabour”, nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Nama ini, ada dalam daftar nama cipta untuk orang Yahudi di Iran, menurut Departmen Dalam Negeri Iran.
Ali Nourizadeh, dari Pusat Studi Arab dan Iran, mengatakan: “Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak tentang dirinya. Dengan membuat pernyataan-pernyataan anti-Israel, ia sedang mencoba untuk menumpahkan kecurigaan tentang hubungannya dengan Yahudi. Ia merasa rentan dalam masyarakat Syiah yang radikal.”
Seorang ahli yang berpusat di London Yahudi Iran mengatakan, “Dia telah mengubah namanya karena alasan agama, atau setidaknya orangtuanya.” Sabourjian dikenal sebagai nama Yahudi di Iran. Seorang jurubicara kedutaan Israel di London, Ron Gidor, mengatakan bahwa, “Ini bukan sesuatu yang akan kami bicarakan.”
Ahmadinejad tidak menyangkal namanya berubah ketika keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Tapi dia tidak pernah mengungkapkan perubahan berhubungan dengan pergantian keyakinan. Ahmadinejad tumbuh menjadi insinyur yang memenuhi syarat dengan gelar doktor dalam manajemen. Sebelum terjun jadi politisi, Ahmadinejad bertugas sebagai tentara pada Pengawal Revolusi.
Menanggapi pemberitaan di atas, Irman Abdurrahman, seorang analis independen, dalam sebuah catatan lepasnya menulis, “Dalam kamus kelompok sayap kanan pro-Israel, ada dua cara membunuh karakter musuh mereka. Pertama, menuduh orang itu sebagai anti-Semit (anti-Yahudi). Kedua, menebar isu bahwa orang itu berdarah Yahudi yang membenci Yahudi (self-hating Jew). Dan, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad adalah target terbaru mereka.”
Rumor Ahmadinejad seorang Yahudi sebenarnya bukan hal baru. Pada awal 2009, Radio Liberty/Radio Free Europe pernah memuat isu yang sama dengan berlandaskan tulisan blog orang Iran yang anti-Ahmadinejad. Selain itu, semua penulis biografi Ahmadinejad telah secara rinci menulis tentang keluarganya. Alhasil, nama “Sabourjian” bukanlah rahasia lagi yang menuntut media sekelas Telegraph untuk membuktikannya dengan meng-”close-up” KTP Ahmadinejad 
Sementara itu, Qanaatgar, seorang warga Iran ketika ditanya masalah ini oleh wartawan IRIB Bahasa Indonesia mengatakan, “Ada kemungkinan bahwa Saburjian itu adalah nama paswand. Istilah paswand itu berbeda dengan nama khanevadeh (nama famili).” Menurut Qanaatqar, nama pasvand jarang sekali dipakai di Iran, bahkan bisa jadi hanya 10 persen warga Iran yang menggunakannya. Nama pasvand kadang berhubungan dengan latarbelakang seseorang, yang bisa jadi itu adalah nama pekerajaan nenek moyangnya atau tempat tinggalnya.”

Nama tak penting, tapi aqidah
Seperti kata Shakespeare, apalah arti sebuah nama, maka sebenarnya tak terlalu penting sekarang ini mempermasalahkan nama belakang Ahmadinejad. Yang justru menjadi persoalan krusial bagi kaum (generasi muda) Muslim ketika hendak menilai dan menjadikan seseorang menjadi anutan, adalah aqidah Islamnya. Banyak tokoh yang baik, berprestasi dan penting di dunia ini, tapi mereka bukan orang Islam. Dalam hal ini, orang Syiah juga bukan orang Islam.
Walau bagaimanapun Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam adalah satu wacana besar yang sudah teruji oleh siapapun dan sejarah manapun. Dan begitu juga dengan orang-orang shaleh yang telah tiada setelahnya. Mengidolakan seseorang yang masih hidup sekarang ini, jauh dari kita, dan dengan informasi dunia yang sumir ini, hanya rapuh belaka.
SUDAH bukan rahasia lagi, dalam ajaran Syiah betapa agungnya kedudukan Ali bin Abi Thalib. Adapun kedudukan sahabat-sahabat yang lain dinihilkan. Syiah meniadakan bagaimana peranan sahabat-sahabat seperti Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, atau Ustman bin Affan. Tidak heran jika kemudian di Iran, nama-nama yang paling banyak bertebaran adalah Ali dan Fatimah. Beberapa tahun yang lalu ada sebuah film anak-anak berasal dari Iran yang sangat terkenal “Children of Heaven”yang dua tokohnya adalah dua nama ini.
Maka tidak heran, jika para kaum Syiah sering sekali menghina para sahabat Nabi yang sudah jelas-jelas berperan besar dalam perkembangan Islam. Begitu pula dengan Ahmadinejad.
Sebelum pemilihan presiden Iran yang terakhir kalinya digelar, Ahmadinejad mengeluarkan pernyataan yang terang-terangan menghina dua orang sahabat Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.
Kecaman dan hinaan Ahmadinejad itu disampaikan dalam sebuah acara televisi secara langsung di Shabaka 3, saluran televisi Iran, hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan pemilu Iran.
Seperti yang diketahui, Iran yang berbasis Syiah ini—salah satu aliran Islam yang dianggap menyimpang—sudah sejak lama mempersempit ruang gerak para jamaah ahli Sunnah (kaum Sunni). Di bawah kepemimpinan Ahmadinejad, bahkan para jamaah Sunni mengalami penderitaan yang belum pernah dialami sejak Revolusi Rafidi Khomeini.
Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!”
Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.
Pernyataan Ahmadinejad ini sudah jelas kemana arahnya, yaitu membuat sebuah perbandingan atas sahabat Rasul dulu dengan kejadian politik saat ini di Iran—berkaitan dengan rivalnya saat itu, Mousavi. Sebelumnya, Ahmadinejad sudah sangat sering menghina sekitar 15 juta penganut Sunni di Iran. Bahkan, pendahulu Ahmadinejad, Rafidi menghina dan menganggap remeh alias menyepelekan 90% Muslim seluruh dunia.
Namun demikian, masih banyak juga pihak atau pengagum Rafidi dan pengingkar sahabat Rasul lainnya seperti Ahmadinejad ini. Mereka adalah orang yang tidak menyadari gerakan Syiah atau mereka yang tak mau memahami rejim 12 Imam ini yang merupakan musuh terbuka terhadap para sahabat Rasul.
Sesaat setelah menayangkan berita ini, sebuah blog dari Iran, sonofsunniiran, langsung ditutup, tak bisa diakses lagi, bahkan sampai kini. Sebelumnya dari blog ini banyak sekali berita yang memaparkan kejahatan kaum Syiah terhadap para Sunni di Iran.
Di balik kezuhudannya, tidak dipungkiri lagi bahwa Mahmoud Ahmadinejad adalah seorang Syi’ah. Dan sudah mafhum pula bahwa Iran adalah negerinya orang Syi’ah Rafidhoh. Dalam sebuah foto yang memuat Ahmadinejad, terlihat foto dua tokoh Syi’ah yang digantungkan di dinding tepat di atasnya.

Siapa Syi’ah Rafidhoh itu?
  1. Mereka adalah sekte yang mengklaim memiliki 12 imam yang lebih mulia daripada Nabi dan Rasul.
  2. Mereka mengkafirkan sahabat Abu bakar dan Umar serta menuduh Ibunda Aisyah seorang pezina. Karena itulah para ulama telah mengkafirkan Syiah.
  3. Merekalah yang memiliki ritual menyiksa diri ketika bertepatan dengan hari Karbala, yaitu peristiwa terbunuhnya Husen.
  4. Merekalah yang membantu Amerika Serikat menaklukkan Baghdad, dan Taliban.
  5. Merekalah yang sering berbuat kerusuhan di Makkah ketika Haji. Dahulu kala Syi’ah Qaramithah mencongkel Hajar Aswad dari Ka’bah sehingga Ka’bah tidak memiliki Hajar Aswad selama 12 tahun, lalu akhirnya dikembalikan.
  6. Mereka shalat menggunakan batu yang disebut batu Karbala sebagai tumpuan sujud mereka. Perhatikan foto Ahmadinejad ketika shalat.
  7. Mereka menghalalkan kawin kontrak (nikah mut’ah), bahkan membolehkan seorang wanita dikawini oleh banyak pria dalam satu malam. Pernikahannya pun boleh tanpa wali. Pernikahan macam apa itu? Intinya sama saja dengan pelacuran, namun mereka mengatasnamakan ibadah. Bahkan boleh kawin kontrak dengan istri orang lain.
Beberapa waktu yang lalu, salah satu sekte Syi’ah yang kesesatannya paling ringan yaitu Syi’ah Zaidiah di Yaman, telah menyerang kaum muslimin, membunuhi para penghafal Al Qur’an di Yaman. Syi’ah yang membantu Amerika menaklukkan Baghdad memperkosa gadis-gadis muslimah.


Hubungan dengan Israel
Satu lagi , Syi’ah memiliki satu prinsip yaitu Taqiyah, menutupi kesesatan mereka dengan kedustaan.
Ketika Ahmadinejad berpidato di Universitas Harvard, media-media Amerika langsung meliput dan menyiarkan langsung pidato tersebut. Padahal selama ini tidak ada presiden yang diperlakukan seperti itu. Apalagi sudah banyak bukti yang menjelaskan hubungan gelap antara Ahmadinejad dengan Israel. Seorang ulama Syiah mengatakan presiden Iran ingin menjalin “persahabatan dengan Israel.”  Menurut ulama Syiah Mahmud Nubia, penasihat teras atas Ahmadinejad, Esfandiar Rahim Mashaei tiga tahun lalu menyatakan bahwa Iran harus memiliki “hubungan yang bersahabat” dengan Negara Yahudi, namun Ahmadinejad menahan diri dari persoalan ini di depan umum karena pemimpin tinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sangat keberatan dengan hal ini.
Menurut Husain Ali Hasyimi, dalam tulisannya, Al-Harbul Musytarakah Iran wa Israil bahwa sejak zaman Syiah Pahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Zionis Yahudi. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syiah yang dipimpin oleh Khumaini.
Sedikitnya 200 perusahaan internasional yang beroperasi di Israel memelihara hubungan perdagangan yang luas dengan Iran. Hubungan ini termasuk investasi dalam industri energi Iran, yang merupakan sumber penghasilan utama Iran dan berfungsi untuk menyalurkan dana untuk mengembangkan rudal, program nuklir dan senjata konvensional lainnya.

Klaim Ahmadinejad soal Masjid Al-Aqsha
Mahmoud Ahmadinejad pernah memberi hadiah kepada seorang penulis buku sekaligus seorang ulama besar Syiah abad ini, yakni  Jafar Murtada Al Amili, yang telah menulis sebuah buku berjudul “Ayna Masjid al-Aqsha?” (Di Manakah Masjid Al Aqsha?) yang intinya mengungkapkan bahwa keberadaan Masjid Al-Aqsha yang sesungguhnya bukanlah di bumi Al-Quds, melainkan di langit. Ia menganggap masjid mereka di Kuffah lebih baik daripada Al-Aqsha seperti tertulis dalam kitab rujukan Syiah Biharul Anwar.Buku tersebut ditetapkan yang terbaik di Iran.
Pemberian hadiah tersebut menyiratkan bahwa, Ahmadinejad menyetujui isi buku tersebut yang menolak klaim bahwa sahabat Umar bin Khattab Ra telah membebaskan Al Aqsha dari bangsa Romawi, karena dianggap Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak melakukan perjalanan darat ke Al Aqsha tetapi pada saat perjalanan menuju ke langit (Mi’raj).

Tidak cukup hanya baik
Memang betul, jika hanya menilai dari atribut kepribadian, maka banyak orang-orang kafir yang memiliki pula kebaikan yang hebat terhadap kemanusiaan. Sebutlah Bunda Theresa yang menjadi simbol pembelaan terhadap orang-orang di India.
Keutamaan dan derajat seseorang di dalam Islam, diukur dari aqidah dan tauhid orang tersebut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebanyak apapun seseorang melakukan kebaikan, tetapi jika tidak memiliki iman, maka amal mereka seperti debu di mata Allah Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu alam bi shawwab

Sumber: islampos.com

Mengajarkan "kekerasan" kepada anak

Tidak dipungkiri lagi anak adalah sebuah anugerah yang tak ternilai pemberian illahi, anak adalah semangat hidup, obat dikala lelah dan penerus garis keturunan. Banyak orangtua yang sangat sayang kepada anak – anak mereka hingga tidak sadar kalau mereka sebenarnya telah menjerumuskan anak – anak mereka untuk menjadi orang yang tak berguna, dan lebih parah lagi jadi sampah masyarakat. Ada sebuah peribahasa “The Child Is Father Of The Man “ yang artinya anak adalah ayah dari lelaki atau ayah dari ayahnya sendiri dan jika dimaknai adalah anak yang dimanjakan oleh orangtuanya. Mengutip kata mario Teguh “semakin sejahtera orangtua maka semakin penurut kepada anak – anak mereka........ semoga kita tidak meninggalkan anak- anak yang lemah...”, rasa sayang kepada anak – anak kadang mengalahkan segalanya, kadang apapun yang mereka minta selalu diberikan, walau (kadang) tidaklah baik untuk mereka (sebenarnya). Anak dimanjakan seperti raja dalam sebuah keluarga, tak peduli keluarga itu kaya, keluarga menengah, keluarga sederhana ataupun keluarga miskin sekalipun. Anak kadang selalu dinomorsatukan secara pelayanan, dipenuhi segala kebutuhannya bagaimanapun caranya. nyaris setiap orangtua berusaha memenuhi segala kebutuhan anak - anak mereka, istilahnya “ demi anak dibela – belain”. Ada type orangtua yang karena rasa sayangnya begitu besar pada anak, mereka jadi bersikap lunak dengan mengikuti semua keinginan anak mereka. Enggan untuk bisa mengatakan “TIDAK”. Anak terbiasa tanpa kesulitan atau hambatan apapun untuk mendapatkan keinginannya. Jika butuh sesuatu tinggal bilang pada orangtuanya, dan selalu mereka dapatkan. Anak jadi tidak terbiasa dengan ujian, hambatan, tantangan, rejection selama masih dalam naungan orangtua, mereka tidak diajarkan kekerasan hidup yang akan mereka hadapi kelak. Ada juga type orangtua yang tidak memperbolehkan anaknya melakukan jenis – jenis pekerjaan rumah tangga, seperti merapikan tempat tidur, membersihkan kamarnya, merapikan kembali mainannya, membantu mencuci piring atau mencuci pakaian. Hampir semua pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan anak dikerjakan oleh orangtua atau pembantu. Hal ini membuat anak tidak terampil karena tidak terbiasa dilatih secara motorik dirumah, padahal dengan bekerja anak mengenal rasa lelah, dan dapat lebih menghargai saat – saat istirahatnya. Pekerjaan di rumah merupakan sarana latihan agar anak mampu bekerja dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya kelak. Anak manja akan cenderung bermasalah dibandingkan dengan anak yang tidak manja atau terlatih mandiri. Anak manja kerap mempunyai sikap tidak siap menghadapi peraturan - peraturan di lingkungannya dan tidak peduli dengan tanggung jawab sosial, misalnya saat di sekolah saat guru memberikan tugas atau belajar rumus baru anak terebut merasa terbebani. Saat seorang teman meminta bantuannya dia akan merasa berat untuk membantu atau bahkan menolaknya sama sekali. Hal ini karena dia tidak biasa disusahkan, tidak peka terhadap lingkungannya, karena dia biasa dibebas tugaskan, biasa dinomor satukan dan biasa dibantu bukan membantu!!. Pada akhirnya anak manja jadi cenderung untuk bersikap licik, egois, tidak peduli terhadap orang lain, tidak sabar terhadap sesuatu , mudah rapuh, sulit untuk mandiri, dan lebih banyak menuntut hak – hak mereka. Anak – anak pada umumnya bosan dinasehati, bosan dimarahi, bosan mendengar larangan – larangan. Orangtua haruslah memahami hal ini, maka cara yang paling efektif adalah memberikan contoh – contoh sikap yang baik pada anak – anak. Dengan penglihatan anak – anak akan lebih mudah mengikuti daripada dengan pendengaran. “ children should be seen and not heard “ Sesungguhnya sifat dan sikap orangtua terhadap anak akan membentuk sifat dan sikap yang identik di dalam diri anak- anak. Anak itu cenderung tumbuh menurut dasar sikap dan watak dari orangtuanya, seperti kata pepatah “ like father, like son ” atau “ apel jatuh tidak akan jauh dari pohonnya”, lalu bagaimana ya bila pohon apelnya di pinggir sungai kalau apelnya jatuh lalu hanyut....(??)

Selasa, 27 November 2012

Tirta Sanita, Gunung yang terlihat diselimuti salju


Tirta Sanita atau lebih dikenal dengan gunung kapur terletak di Desa Bojong Indah, Kecamatan  Parung, Bogor. Jaraknya sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Bogor, atau kalau dari Jakarta hanya 30 kilometer saja. Di Tirta Sanita ini kita bisa mandi air panas alami yang mengalir dari langsung dari gunungnya.

Gunung kapur terlihat putih apabila dari kejauhan seperti diselimuti oleh salju yang merupakan proses dari sedimen ribuan tahun oleh air belerang. dahulu kala air belerang ini di gunakan untuk membuat garam dengan cara di endapkan, terbukti sebelum gunung kapur di bangun oleh PT Tirta Sanita terdapat kolam tampungan untuk mengendapkan air belerang ada juga bangunan yang di gunakan untuk pembakaran kapur, sayang sekali bangunannya sudah dibongkar

Di Tirta Sanita ini kita bisa menyegarkan badan dengan mandi air panas belerang. Air panas ini bermanfaat untuk kesehatan, karena berguna untuk pengobatan berbagai macam penyakit, seperti penyakit kulit, tulang dan lain sebagainya. Sumber air panas Tirta Sanita ini telah diuji oleh TEMAC Thai Engineering Materials Analysis C. Ltd, yang menyatakan bahwa air panas tersebut bermanfaat untuk kesehatan manusia, terutama untuk pengobatan berbagai macam penyakit kulit.

Akses menuju Tirta Sanita
Dari arah Bogor - Jampang - perempatan Ciseeng lalu ambil jalan lurus ke arah Gunung Kapur, tapi jika dari arah Jakarta sebaiknya melalui Tol Pondok Indah-Serpong, melewati Muncul/Puspitek sampai perempatan pasar Prungpung ambil jalan lurus lebih kurang 4 kilometer menuju ke Lokasi yang berada di sebelah kiri jalan. Tapi jika tidak lewat jalan Tol, rutenya Lebak Bulus - Pondok Cabe - Parung - Ciseeng.

suasana lebaran di pintu masuk Tirta Sanita
Bayangkan bila anda ada di tengah-tengah mereka
Yang harus diperhatikan.
Demi kenyamanan anda saat berkunjung ke Tirta Sanita anda harus memperhatikan hal-hal berikut:
  1. Jangan tergiur tawaran calo tiket yang menawarkan harga tiket lebih murah, yang sebenarnya tidak benar malah relative lebih mahal.
  2. Bila anda tergiur tawaran calo tiket usahakan menawar dengan harga semurah mungkin, jangan percaya bila mereka membandingkan dengan harga tiket asli yang katanya lebih murah dan bersiap-siaplah jalan lebih jauh bila anda kurang beruntung mereka akan mengajak anda masuk lewat pintu sampah.
  3. Jangan berkunjung di hari lebaran karena anda akan membawa oleh-oleh bĂȘte dan gondok, karena buanyaaaaaaaaakk sekali pengunjung dan buanyaaaaaaaaakk sekali calo tiket, bila anda ingin menikmati suasana hari raya disana usahakan datang pada hari-hari yang kira-kira sepi pengunjung seperti rabu, kamis dan jumat.
  4. Bawa makanan yang cukup, karena harga makanan disana fantastis sekali dan bila anda tidak mau repot dengan membawa bekal cobalah menu makanan di "Warung Okedeh" yang pemiliknya Po' Odah harganya bersahabat dan gado-gadonya ajiib. :)

Senin, 26 November 2012

Aku membunuh anakku dengan Imunisasi

Ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi, sebagai informasi / pelajaran bagi Rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi cobaan seperti ini.

Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan baik (walau dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu apapun, beratnya 3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia atas peristiwa ini. Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof. “R” di RS “A”) kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin, susu ibu menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan bergizi, menjaga pantangan-pantangan dalam merawat bayi. Dan rutin melakukan Imunisas. Disinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat anak/bayi kami berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk imunisasi, pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. “R” di RS “A” , namun pada saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter pengganti/wanita yang masih muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa namanya). Begitu melihat jadwal pada buku RS anak saya, dokter tersebut langsung siap melakukan imunisasi terhadap anak saya, “hari ini imunisasi HIB ya ?!”, saya & istri tahu bahwa imunisasi HIB tersebut salah satunya untuk mencegah radang Otak, makanya Istri saya sempat bertanya, “dok, seandainya imunisasi ini tidak dilakukan bagaimana ya ?!”, lalu dokter pengganti tersebut menjawab dengan nada agak ketus, “apakah ibu mau, anak ibu jadi Idiot?! (sambil memperagakan tampang muka orang yang idiot dengan lidah dijulurkan keluar)”. Karena begitu sayangnya kami dengan anak kami, sudah barang tentu kami tidak mau anakkami idiot, lagi pula saya saat itu berfikir demi kesehatan anak kami tentulah kami menuruti apa kata dokter yang lebih tahu/berpengalaman dengan imunisasi tersebut. Lalu tanpa memeriksa dengan seksama kondisi anak kami dalam keadaan fit/tidak, dan perlu tidaknya imunisasi tersebut kembali diberikan kepada anak saya (karena sebelumnya pada saat berumur +/- 5 bulan anak kami telah pernah diberikan imunisasi HIB I) dokter pengganti tersebut langsung memberikan suntikan imunisasi HIB II kepada anak saya.
Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak kami mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari sekali pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan di pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak. Hal ini berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya pernah sampai 40,6 derajat C.
Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang masih/pernah punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara mereka yang bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman bilang anaknya panas “cuma” 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang, namun sampai hari itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal panasnya beberapa kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun dengan sendirinya, paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai Panik dan khawatir, takut jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah.
Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum di RS. “D” (Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter Spesialis anak yang Buka). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang syrup, ada yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3 hari, anak kami masih belum membaik (panasnya masih naik turun), lalu kami ke RS “A” tempat dokter anak saya Prof. “R” dimana selain diberi obat-obatn juga disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya langsung periksakan anak saya ke Lab. “P” yang sudah berpengalaman), Karena setelah kami ketahui hasilnya “negatif/tidak ada penyakit” dan obat dari Prof. “R” di RS “A” juga belum efektif menyembuhkan panas anak saya, akhirnya saya membawa anak saya ke RS “B” Cikini (karena saya tahu di RS “B” ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di rawat).
Di sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama kali keRS “B” cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan setelah bertanya kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit Gawat Darurat) karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah dilakukan beberapa tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke dokter Spesialis anak dr. “N”, baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang perawatan untuk di rawat.
Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap anak kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan tersebut, dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu tindakan medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis, yang didalamnya tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka pihak RS tidak bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka lakukan tidak disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah simalakama, dan tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis yang dilakukan oleh pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.
Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan (karena hasil cek darah yang saya bawa dari Lab “P” sebelumnya menurut pihak RS bisa berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih “negatif” tidak diketahui penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran dokter anak saya harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00 (sembilan malam) kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan. Selama waktu tersebut kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus di kakinya, namun anak saya tampak ingin makan/minum, namun kami tidak berikan walau mulutnya seperti orang yang kehausan. Kami sangat mengkhawatirkan fisik anak saya.
Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi, esokan hari/Jum’at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih dari 40 derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di rumah belum pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu), suster-suster RS mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke hidung, dan karena panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya pagi itu juga langsung di bawa ke ruang ICU/PICU (Pedriatic Intensive Care Unit). Anak saya di diagnosa awal “kemungkinan” terkena Radang Otak yang disebabkan oleh Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi pengaturan suhu tubuh. Dan dokter bilang kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada, kalaupun sembuh akan ada efek sisa, misalnya jadi Idiot, Lumpuh, dsb. (Pihak RS langsung Pesimistis untuk penyembuhan anak saya).
Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya yaitu dr. “Y” (dokter spesialis anak senior RS “B”), dengan anggota beberapa dokter Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. “A” dari RS “C”, selain dokter tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam seharibekerjanya dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor perkembangan kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti karyawan di kantor kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang baru/belum berpengalaman, ada yang text book, ada yang kurang berani bertindak, dsb.
Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi dan kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada saat kejang, karena tenaga medis tidak begitu “care”, Istri saya sendiri yang harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar lidahnya tidak tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan baik akibatnya anak saya semakin lemah, terlihat pada mesin yang memonitor Oksigen dan Jantung anak saya saturasinya (istilah mesin tsb) terus menurun. Pada saat tim Dokter datang kondisi anak saya sudah memburuk, bahkan pada layar monitor mesin saturasi sempat terlihat “Flat”, artinya paru-paru/oksigen dan jantung anak saya telah berhenti bergerak. Saya dan Istri langsung Shock dan lemas tangis pun tak terbendung. Beberapa tenaga medis terus berusaha memompa secara manual nafas anak saya, lalu mereka segera memasang mesin Ventilator/alat bantu pernafasan (mesin yang sama dengan yang digunakan Almh. Sukma Ayu) dan menyalakannya. Seperti biasa pihak RS menyodorkan surat persetujuan tindakan pemasangan mesin tsb. Pada saat itu saya & istri sangat Shock, sehingga konsentrasi kami hanya kepada anak kami tersebut, oleh karena saya tidak begitu memperdulikan surat persetujuan melakukan tindakan yang disodorkan RS, akibatnya pihak RS langsung mencopot kembali selang-selang yang terpasang dan mematikan mesin/listrik Ventilator tsb. Kami kesal dan marah (walau hanya di dalam hati), lalu segera meraih surat persetujuan tindakan tsb dan menandatanganinya, barulah alat tersebut kembali dipasang/dinyalakan, dan selamatlah nyawa anak saya ketika itu (padahal menurut hemat saya hitungannya hanya detik untuk mengambil keputusan tersebut/terlambat sedikit mungkin akan berbeda ceritanya).
Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua minggu itu pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan kami, kami menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang terus menerus dilakukan tindakan medis, diantaranya :
  1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot dengan alat suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan jumlah pengambilan dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 – 10 CC darah, padahal kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat kuning seperti kurang darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari perut, Bahkan sampai diambil contoh cairan otaknya (melalui penyedotan pada ruas tulang belakang) walaupun hasilnya juga negatif.
  2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari vena-vena di kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah kesulitan memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena Sectio (operasi kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari pembuluh vena yang berada agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan cairan infus ke tubuh anak saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak saya telah di-Vena Sectio.
  3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak berfungsi dengan baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.
  4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai indikasi/kemungkinan (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya yang kadarnya tergolong keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.
  5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah (semua titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan infus/pengambilan darah tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan di coba lagi sehingga menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas jarum suntik yang sangat banyak.
  6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali, Padahal sekali saja dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh)
  7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi sehingga di penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di bius (hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).
  8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan masalah biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan pembayaran dari Kantor. (Coba bayangkan seandainya memang kami tidak punya biaya).
  9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim Medis hanya selalu mengatakan “Kemungkinan”. Dari +/- satu bulan di rawat, anak saya sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya bersumber dari Radang Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes, berubah Toxoplasma, berubah Maningitis, berubah Ensevalitis, sampaikesimpulan terakhir/dari sampel darah terakhir anak saya masih belum mengetahui pasti penyebab penyakitnya (bukti lab. adanya virus/bakteri tersebut tidak pernah ada).
Pada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan beberapa Tim Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena posisi kami sangat lemah, Ketua tim dokternya “dr.Y” sempat berujar bahwa mereka dokter-dokter ahli, ” kalau di RS “C” bapak boleh bilang “begitu”, karena banyak dokter muda yang sedang belajar disana” (maksudnya menanggapi guman saya dengan istri saya, “kok anak kita seperti kelinci percobaan ya!? dan kata-kata tersebut didengar Suster, yang lalu melaporkannya ke ketua Timdokternya), bahkan dokter itu juga sempat berkata “kalau bapak tidak puas, silahkan angkat anak bapak sekarang !!”. Padahal saat itu, hal tersebut tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya terpasang mesin (Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi Oksigen/Jantung, ada infus, ada selang Sonde/makanan, dsb)
Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS “C”, yaitu dr. “I” ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan, “Penyakitnya malah dari RS ini semua, ya !!”, Setelah masa perawatan 2 minggu tersebut timbul berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa melihat (menurutnya mungkin bisa sembuh karena anak saya masih bayi), Infeksi paru, memar di kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali masuk RS anak saya “hanya” sakit Panas. Kemudian dr “I” juga bilang ” tadi saya coba lepas alat Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah bisa bernafas sendiri “. Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya ketika itu.
Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter dan beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin setelah diberi masukan oleh dr. “I” dari RS “C”), di coba 1 jam, 2 jam, 3 jam dan seterusnya …. rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka Tim medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor dari Amerika).
Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif stabil (antara 36 – 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik “hanya” tinggal matanya yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa ditekuk), namun pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan hampir setiap hari dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan pemijatan). Sehingga akhir minggu ke tiga semua Infus telah dicopot, oksigen dicopot, hanya tinggal selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang masih terpasang.
Saya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap hari untuk kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu ke empat, dr. “I” (Specialis syaraf dari RS “C”) bilang anak kami boleh di bawa pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan biasa dahulu (sesuai prosedur RS “B”). Dan menurut dokter “I” juga, anak kami hanya cukup rawat jalan ke RS “C”, untuk berobat ke dr. “I” dan dr. “L” (specialis tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih kaku-kaku). Setelah sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidakada masalah kami membawa anak kami pulang dengan membawa dua macam obat (Anti kejang dan anti Virus), dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami diambil kembali darahnya oleh RS untuk pemeriksaan penyebab penyakit anak kami, setelah itu barulah kami diperbolehkan pulang.
Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa akan luka dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang masih belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan mungkin infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena infeksinya, Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan ketika akan kami beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah hingga lemas, lalu tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02 pagi, kami kembali membawa anak kami ke RS “B” Cikini dan kembali kami mengalami kekesalan, anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang baru masuk RS. Anak kami kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa, diambil darahnya lagi (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada tempat lagi untuk infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan mungkin panasnya akibat luka dibelakang kepalanya yang belum sembuh/infeksi), padahal saya sudah protes terhadap dr. jaga pada saat itu bahwa anak saya sebelumnya sudah dirawat hampir sebulan di RS tersebut, dan hasil lab. terakhirnya juga baru kemarin saya ambil dengan hasil “negatif”, juga saya kemukakan mengenai luka dibelakang kepalanya yang harus diprioritaskan pengobatannya. Namun karena dr. terus mengemukakan argumennya, akhirnya kami mengalah dan menyerahkan sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh dr. Dan kembali anak saya dipakaikan selang Oksigen ke hidungnya, lalu dengan alasan “saturasi” nafasnya terus menurun, Tim medis berencana untuk memasang kembali mesin Ventilator pada anak saya, dengan sebelumnya meminta persetujuan saya lagi untuk diambil darahnya sebelum pemasangan mesin tersebut (padahal ketika itu kondisinya terlihat pucat/kuning seperti telah kehabisan darah). Kembali dengan berat hati dan berharap Tim Medis melakukan tindakan yang “benar” untuk anak saya, saya kembali menyetujuinya. Namun belum sempat mesin itu dipasang, belum sempat hasil lab I dan ke II (pengambilan darah pada pada hari itu) ada hasilnya, akhirnya anak saya dipanggil oleh yang Maha Kuasa …… anak saya mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan Meninggal oleh pihak RS, walau saat itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah dagunya masih ada (walau lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa alat bantu nafas manualnya, Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah lepas tangan dan tidak melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan Ikhlas, didepan mata kepala saya dan istri saya, anak kami melepaskan nyawanya tanpa kami bisa berbuat apapun juga (Selasa 12 April 2005 Jam 23.25 wib). Akhirnya Anak kami meninggal dengan sebab bukan karena penyakitnya (Panas), menurut kami “kemungkinan” karena gagal nafas/Infeksi paru atau malah “mungkin” karena terlalu lemah kehabisan darah.
Innalillahi Wa inna illaihi roji’un selamat jalan Permata hatiku, …….. doa kami ‘kan selalu menyertaimu…Amin
Dan tidak lupa saya dan keluarga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik moril, materil maupun spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala kebaikan rekan-rekan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.
Salam, Istriyanto & Keluarga

Note :
Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga medis, sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya alami, maka kami mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari sesama Pasien RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan mengatakan pada saya, selama dalam perawatan sampai saat meninggalnya anak saya) sbb:
  • Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka disuntik imunisasi.
Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis namun, setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan di imunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat ke dokter.
Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah terkena campak.
Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun phisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak keduanya sama sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah sakit (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)
Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat, umur 10 bulan sudah dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis satu persatu.
  • Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang aneh-aneh) alasannya :
Kita “Mendzolimi”, anak kita sendiri yang memang sedang masa pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.
Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat atau tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya belum bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah fisiknya/sakit).
Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita juga harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi, dsb),
Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi anak kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya. Contoh nyata yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali imunisasi HIB ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya dokter bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun nyatanya anak saya malah meninggal akibat penyakit Radang Otak.
Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan Prancis, justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan terus berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel Imunisasi telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu merupakan pelopor “industri”, imunisasi.
Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung imunisasi semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor, tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita malah sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).
  • Jika tidak “urgent” sekali, hindari rawat inap di RS, karena banyak prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh pasiennya. (Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang terus menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu coba dulu dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.
  • Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.
  • Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih baik.
  • Banyak tanya, biarlah kita dibilang “bawel”, tanyalah setiap tindakan medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya, ada tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu menyakiti pasien.
  • Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain), karena setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan, dan cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.
  • Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh “Yang Maha Kuasa”, manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.
Diambil dari Forum Diskusi:

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus