Rabu, 19 Juni 2013

ANAK INDONESIA YANG TERLUPAKAN

Potret Kecil Pendidikan Kita
Saya seorang Guru SD yang mengajar di jam sore hari, ada salah seorang murid saya yang setiap hari datang terlambat ke sekolah. Tas dan bajunya selalu kotor dan setiap kali saya bertanya tentang baju dan tasnya yang selalu kotor itu, dia hanya terdiam.
Saya masih bisa bersabar dengan keadaan pakaiannya, tetapi kesabaran saya benar-benar diuji dengan sikapnya yang setiap hari datang terlambat.
Pada mulanya saya hanya memberi nasehat, dia hanya menundukkan kepala tanpa berkata kecuali anggukan yang seolah-olah dipaksakan. Kali kedua saya memarahinya, dia masih juga mengangguk tetapi masih juga datang terlambat keesokan harinya.
Kali ketiga, saya terpaksa menjalankan janji saya untuk memberi hukuman yaitu dengan memukulnya kalau masih terlambat. Anehnya dia hanya menyerahkan punggungnya untuk dipukul. Air matanya saja yang berjatuhan tanpa berucap sepatah katapun dari mulutnya.
Keesokan harinya dia masih juga terlambat dan saya memukulnya lagi. Namun ia masih tetap datang ke sekolah dan masih tetap datang terlambat.
Suatu hari saya berencana untuk menyelidikinya ke rumahnya. Setelah mendapat alamatnya, saya melanjutkan niat saya. Ternyata dia tinggal di sebuah kawasan bukit yang tidak begitu jauh dari sekolah. Keadaan rumahnya sungguh sangat sederhana, bahkan bisa dikatakan tidak layak huni.
Saya melihat murid saya itu sedang berdiri di depan rumahnya dalam keadaan gelisah. Seorang wanita yang mungkin ibunya juga kelihatan. Kurang lebih pukul 1.30 siang, seorang anak lelaki sedang berlari-lari sekuat tenaga menuju rumah itu. Sambil berlari dia membuka baju sekolahnya.
Sampai di depan rumah, baju dan tasnya diserahkan kepada murid saya yang langsung bergegas memakainya. Sebelum pakaian sekolahnya sempurna dikenakan, dia sudah berlari ke arah sekolah.
Saya kembali ke sekolah dengan perasaan penuh penyesalan. Saya memanggil anak itu sambil
menahan air mata yang mulai tergenang.
"Maafkan Ibu ya. Tadi ibu pergi ke rumah kamu dan memperhatikan kamu dari kejauhan. Siapa yang berlari memberi kamu baju tadi ?".
Dia terkejut dan wajahnya berubah. "Itu kakak saya. Kami bergantian baju dan tas sebab tidak ada baju lain lagi. Hanya baju dan tas itu yang ada. Maafkan saya, Ibu", jawabnya.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Ibu dan kenapa kamu biarkan saja ketika ibu memukul kamu?"
"Ibu saya berpesan, jangan meminta-minta kepada orang dan jangan ceritakan kemiskinan kita pada orang. Kalau Ibu Guru mau menghukum dan memukul, serahkan saja punggung kamu" Sambil menahan air mata yang mulai berguguran, saya memeluk anak itu, 
"Maafkan Ibu..." Kejadian itu cukup menyadarkan saya. Setelah itu saya mencoba untuk membantunya sekuat yang aku mampu.
Semoga bisa menjadi bahan renungan kita bersama, untuk terus bersyukur atas apa yang kita miliki saat ini

(Sumber Cerita : Anonim, Dipetik Dari Pengalaman Seorang Guru).

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus