Senin, 26 Oktober 2015

Penulis Gagal



Menulis adalah sesuatu yang tidak mudah buat gue, walaupun sebenernya hobi gue mengarang waktu plajaran bahasa Indonesia di SD, termasuk mengarang cerita bohong gue jagonya, tapi menuliskan sebuah cerita yang bagus dan menarik perhatian itu sesuatu banget, susah!, mungkin karena gue memulai segalanya dengan otodidak, tidak ada yang membimbing, atau memang gue ga’ bakat menulis kali, tapi ada seorang guru yang sering gue tanyain segala tentang menulis, dia adalah mbah google.
Pernah gue menulis sebuah novel yang gue ambil dari kisah nyata gue, sebuah perjuangan yang sangat berat untuk menyelesaikan novel ini terlebih karena sarana yang ga’ ada, computer jebol motherboardnya, akhirnya gue pinjem laptopnya Azi dan ade ipar gue, sempet sakit lama gue gara-gara sering begadang, tidur jam 1 atau jam 2 pagi dan mesti bangun lagi beberapa jam kemudian untuk sahur karena gue menulisnya pas bulan puasa,  penyakit gue sampai harus di operasi gara-gara  memicu penyakit yang lain.
Setelah novel selesai gue kontak teman gue galih yang kebetulan kerja disebuah penerbit, dia minta gue kirim synopsis novel gue lalu dia mengirimkannya ke editor, beberapa hari kemudian gue terima review novel gue yang di forward dari emailnya Galih, balasannya seperti ini……
Review Sinopsis “Pisang Cokelat”
Kali pertama membaca judul Pisang Cokelat, saya kira ceritanya akan menyoal perjalanan hidup penjual pisang coklat yang berjuang demi mencari nafkah, dan dibumbui dengan persoalan jatuh cinta. Atau, cerita cinta yang fun karena diracik dengan suasana komedi. Ternyata tidak. Pisang Cokelat (selanjutnya akan disingkat menjadi PC) menceritakan perjalanan hidup Denie yang merasakan sakitnya patah hati.
Jujur saja, saya belum menemukan benang merah dalam cerita PC ini. Kalau pun ada, masih belum tampak jelas apa yang sebenarnya dibicarakan karena saya menangkap kalau PC ini hanya membahas kisah hidup seorang pria yang patah hati, lalu kehilangan gairah hidup. Singkatnya, PC masih belum mempunyai topik yang serius dibicarakan.
Di bawah ini, saya memberikan kritik dan saran tentang cerita PC lebih spesifik, yang mungkin bermanfaat dan dapat diterima.
  1. Tokoh dan Karakterisasi.
Sebagai pria, tokoh Deni terkesan terlalu ’’cengeng“. Ia tidak memiliki konsistensi karena sesaat mencintai Sophia, sesaat membencinya, lalu untuk mengusir bayangan Sophia ia berpacaran dengan Ncun, tapi kemudian putus karena kembali terobsesi dengan Sophia. Pun Sophia dan Gunawan. Bagaimana mungkin Sophia mau mendampingi Deni sedangkan ia akan menikah, dan agak kurang masuk akal jika Gunawan bisa menerima tunangannya dekat dengan pria lain selain dirinya—ini jika dilihat dari sisi emosional si tokoh. Tapi, akan lain cerita jika pada akhirnya Deni mengalami depresi berat yang mungkin menyebabkan ia sakit keras, kecelakan, sekarat, atau semacamnya. Jika sudah begini, motivasi Sophia untuk bersedia mendampingi Deni sebelum pernikahannya, maupun Gunawan rela melihat tunangannya bersama dengan pria lain, akan jauh lebih masuk akal.
Adapun Ncun, seolah-olah sebagai tokoh selingan, yang kemunculannya tidak menimbulkan ’’efek’’ apa-apa kecuali ia cinta mati pada Deni. Saran saya, tokoh Ncun harusnya bisa membawa pengaruh, bahkan ia sebetulnya tokoh ketiga—di antara kisah Deni dan Sophia—yang membawa pencerahan atau hal baik. Misal, Ncun tetap setia menyayangi Deni meski hubungan mereka di putuskan secara sepihak. Alasannya karena Deni masih, bahkan semakin, terobsesi dengan Sophia.
Tapi, saat Deni sakit/sekarat/depresi, justru Ncun-lah yang mengatakan tentang keadaan Deni pada Sophia, dan memintanya untuk menjenguknya. Hal yang seperti inilah yang mungkin akan membawa para pembaca ke isi cerita yang romantis, tanpa harus menjadikan salah satu tokoh terkesan ’’cengeng“.

  1. Latar.
Latar tempat maupun waktu dalam cerita PC masih belum terlihat. Tapi yang jelas, jika akan mengambil latar di luar negeri, saran saya tidak perlu karena hal itu belum tentu berpengaruh pada cerita. Malah, mungkin akan menyia-nyiakan waktu.

  1. Plot dan Konflik.
Kontribusi hubungan antara beberapa tokoh dalam cerita ini seperti tak ada kejelasan. Hubungan antara Deni dan Ncun seperti ditinggalkan begitu saja. Malah, kisah Deni mengejar Cinta Sophia pun seperti tak ada resolusi sama sekali, tidak terasa berkembang.
Jika ingin digali lebih dalam lagi, cerita PC sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan dengan sangat kuat. Namun sayang, seperti yang sudah disampaikan di atas, plot cerita ini seperti tak memiliki benang merah yang kuat, konfliknyapun hanya sebatas kisah pria yang mengejar cintanya, lalu patah hati. Sangat disayangkan, selain tema, konfliknya masih kurang terasa kuat, sehingga cerita PC masih terasa umum dan tak spesifik dalam menonjolkan tema dan permasalahannya.

Lucu juga pas gue baca reviewnya, apalagi dibagian ga’ masuk akal jalan ceritanya, cerita ini padahal inspirasinya dari kehidupan nyata gue cuma nama-nama yang kebetulan dibagian rentan aja gue ganti dengan nama lain, ternyata hidup gue ga’ masuk akal dong didunia novel, haduuuh, haduuuh. Sempat kepikiran buat ngeditnya lagi sesuai dengan yang diarahkan, atau kalo perlu gue setting ke permintaan komoditi pasar tapi gue ga’ kunjung mengerjakannya, ga’ kebagian waktunya dengan hal-hal lain yang menyita perhatian, terutama urusan dapur.
Kalo kalian ada yang mau baca novel gue yang ga’ masuk akal jalan ceritanya itu, bisa baca mulai dari sini, judulnya PISANG COKELAT, Swanish love story, jangan lupa like atau share ya…

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus