Senin, 26 Oktober 2015

Seraut Wajah Dalam Lamunan

Swanish's Love Story - Part 27

Imaji

Gue asyik menikmati kelapa muda dibawah pohon jublek didepan warung nyokap gue di Gn. Kapur sambil baca notifikasi group WhatsApp Ikatan Alumni Nevar17 di hape, terlalu asyik gue mungkin hingga ngga sadar ada yang mendekati gue.
“Assalamu alaikumsuaranya terdengar akrab di telinga, gue mengangkat wajah gue yang sedari tadi ke hape, setengah ngga percaya gue melihat siapa yang ada didepan gue, astaga Shopie, ada angin apa dia tiba-tiba ada di depan gue
“wa alaikum salamgue masih terpaku melihat sosok yang ada didepan gue ini
“hallo...apa kabar? katanya sambil mengulurkan tangannya, gue menjabat tangan itu dengan sedikit gemetar
“hai, kabar baik, kamu sendirian kesini..?
“berdua...” waduuh berdua dengan si perampas beruntung itu jangan-jangan, bisa-bisa ditembak mati gue disini, tepat di kepala, didepan warung nyokap gue lagi, darah muncrat kemana-mana, haduuuuh...
“lalu mana teman kamu?” kata gue sambil menelan ludah
“bukan teman, berdua dengan gojek...
“owh...gojek, aku pikir dengan....” ternyata gojek yang mengantarnya kesini, tukang ojek online dengan jaket ijo itu.
“kenapa?, kamu pikir aku datang dengan dia ya...?” gue nyengir kuda menyembunyikan kekhawatiran gue.
“ayo duduk sini atau mau dimana?” kata gue dengan sedikit salah tingkah karena dia terus memandang gue
“eeh, tapi kamu sengaja mau ketemu aku apa lagi mau kemana? kata gue takut salah, dia tertawa, gue garuk-garuk kepala yang tiba-tiba gatal, ketombe apa kutu yaa…
“aku duduk disini aja katanya sambil ambil posisi duduk di tikar dimana gue sedang duduk, tepat didepan gue, haduuuh rasanya dada gue sesak ini, perlu nafas buatan, tolong...
Sudah lama ngga’ bertemu dengannya, walaupun kadang ingat kadang tidak, dulu dia adalah makhluk yang paling sering menghiasi otak gue dengan keindahan walaupun kadang lebih sering membuat gegana alias gelisah galau merana.
Namanya adalah sebuah nama yang paling sering gue tuliskan sedangkan gue mungkin hanyalah nama yang tak pernah dia sebut.
Walaupun sudah lama gue hapus setiap kenangan saat bersamanya tapi bila dia ada tepat didepan gue tiba-tiba flashback kemasa-masa itu, tersesat saat di Gn. Gede, saat mendaki Mahameru, diving di Bunaken, eeh entar dulu deh, kayanya yang ini bukan sama dia deh, sorry salah fokus J
“aku sengaja mau ketemu kamu disini...” katanya lagi, gue mengernyitkan dahi, ada apa gerangan
“Well...? kataku berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba beku setelah pesanan kelapa muda untuk Shopie datang tentunya ada sesuatu yang membuat kamu datang kesini?”  Shopie tersenyum, oh my god! Senyumnya masih semanis dulu.
“iya, kemarin aku jalan-jalan ke toko buku dan ga sengaja menemukan buku ini...” Shopie mengeluarkan sebuah buku dari tasnya, gue kenal banget buku itu, buku gue Pisang cokelat-Swanish love story buku tentang gue dan kegilaan gue dengan pisang cokelat
“boleh aku lihat?” aku mengambil buku itu dari tangannya setelah dia mengiyakan Pisang cokelat-Swanish love story, penulisnya georgeous kamal…bukunya tentang apa?” kata gue pura-pura ngga tau dengan buku itu tentunya dengan memasang wajah innocent yang mungkin malah terlihat seperti wajah penjahat kalo gue rasa sii.
“Sudahlah jangan pura-pura gitu, aku tau kamu yang menulis buku ituShopie memandang tajam kearah gue, setajam silet
“lho koq mengapa jadi aku, disini aja ketauan penulisnya Georgeous Kamal gue mengelak dengan dahsyat.
“sudahlah aku tau kalo Georgeous Kamal itu kamu, itu nama facebook dan nama pena kamu kan?” Shopie terus mendesak gue berkali-kali untuk mengaku
“darimana kamu tau kalo Georgeous Kamal itu aku?” gue masih berusaha mengelak
“Kiwil...”
“Kiwil?”
“iya Kiwil...Dwi, dia yang bilang sama aku, pas aku tunjukin buku ini ke dia dan membaca judul dan penulisnya dia bilang... jadi juga akhirnya buku si Deni..” gue nepok jidat mendengar kata Shopie barusan.
Oke, aku mengaku, buku ini memang aku yang menulis” gue memasang bendera putih akhirnya, menyerah karena ketauan.
aku yakin memang kamu yang menuliskan, ga mungkin orang lain menuliskan dengan sedetil itu cerita kita...”
Cerita kita? gue sedikit merinding mendengar kata itu masih ada ya cerita kita setelah bertahun-tahun tertimbun daun-daun dan ranting pohon busuk?
aku harap tidak ada efek negative yang aku timbulkan gara-gara buku ini, maaf aku ngga sempet confirm ke kamu kalo aku menulis buku ini, karena aku pun gayakin kalo buku ini akan terbit
 ga ada efek negatifnya koq, cuma aku baru tau semua perasaan kamu melalui buku ini..” katanya sambil menunduk
 “sebenarnya aku sedikit khawatir dengan apa yang aku tulis, takut nanti ada yang marah, ada yang cemburu, ada yang rumah tangganya berantakan gara-gara buku ini, sebuah cerita lama dan gapenting lagi....tidak akan merubah keadaan, tidak akan merubah apa yang sudah terjadi
“memang...” ujar Shopie pelan
“buku ini memang tentang kita, aku cuma ingin menumpahkan apa yang aku rasa dulu lewat sebuah tulisan, tentang apa yang kamu sudah tau ataupun apa yang aku tidak pernah ceritakan ke kamu, tentang perasaan yang mungkin kamu belom tahu, cuma itu, sama sekali tidak untuk menarik kamu kembali kedunia dimana kita pernah bernafas bersama
“aku tau” Shopie menghela nafas aku cuma mau bilang terima kasih untuk menuliskan cerita ini” Shopie mengulurkan tangannya gue menjabat tangan itu
“Aku juga berterima kasih karena kamu pernah mengisi hari-hariku dan akhirnya menjadi sumber insiprasiku di buku ini” Shopie tersenyum
Akhirnya senja yang temaram memisahkan kita, waktu terasa cepat sekali berlalu hari ini, ada rasa gembira terselip di hati hari ini entah mengapa

Cerita ini cuma imajinasi gue aja, sama seperti Divorce dan I wish its not a dream, bedanya adalah Divorce dan I wish it’s not a dream cerita imajinasi tentang dimasa lalu gue, kalo imaji adalah imajinasi gue dimasa depan, bila buku ini terbit J

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus