Senin, 26 Oktober 2015

Jum’at, 13 Februari 2003

Swanish's Love Story Part 18
 

Motor meluncur membelah malam, pasar Prumpung baru saja terlewat 3 menit lalu, jalanan ngga’ terlalu ramai, malam berhiaskan bintang-bintang yang menyempurnakan keindahan sang dewi malam yang sekarang duduk di jok belakang motor gue.
“tau ga lo ini malam apa?..” kata gue berusaha mengarahkan omongan kearah yang gue inginkan.
“tau, malam sabtu kan...” katanya sambil ketawa
“lo tau arah pertanyaan gue ngga kearah situ kan neng..” dia tertawa lagi mendengar nada suara gue yang mungkin terdengar sedikit kesal.
“iya gue tau malam valentine kan...terus memang kalo malam valentine mengapa..?” katanya mulai serius, kali ini gue yang tertawa karena sikap dia yang tiba- tiba berubah serius.
“ gue membelikan lo sesuatu ni..” tangan kiri gue mengambil sebuah kotak putih panjang berhiaskan pita warna merah dari tas gue, tangan gue tetap memegang stang supaya motor laju jalannya, mata tetap fokus kejalan, gue ngga’ mau malam ini jadi kacau karena gue kurang konsentrasi dijalan, dia mengambil kotak putih panjang itu.
“waaaah, apa ini Den..?” terdengar suaranya gembira sekali walaupun belom tau isinya
“cuma mawar kok, bukan hal yang spesial...”
“mawar? So sweet....Terima kasih ya..” dia senang sekali kedengarannya, ingin rasanya gue menoleh ke belakang gue untuk melihat bagaimana mukanya saat gue beri mawar itu
“maaf baru kali ini baru bisa gue beri mawarnya...” kata gue
“haha, iya..biasanya bunga ilalang ya...”katanya tertawa lepas, “terima kasih Den, gue suka...manis banget” katanya, senaaang banget gue dengarnya, berhasil!

“mau kemana dulu kita..? Kata Shopie saat motor ternyata ngga’ langsung masuk ke jalan baru, malah lurus kearah perapatan Ciseeng.
“makan dulu....” kata gue
“makan baso ya, bakso tak terduga...”katanya
“ngga’ malam ini kita makan pecel ayam aja ya...”
“pecel ayam?”
“kenapa?, ngga suka?”
“suka...”
Ngga’ jauh dari perapatan Ciseeng belok kanan sebelum tukang bakso tak terduga ada tukang pecel ayam, suasananya ngga’ terlalu rame, sesuai dengan apa yang gue rencanakan, cuma ada beberapa pembeli yang beli untuk dibawa pulang.
Sambil menunggu pesanan datang Shopie menceritakan tentang teman akrabnya Dona yang sepertinya mati-matian cinta sama si Udin sales padahal Dona tau kalo Udin juga dekat sama Parni,
Perhatian gue teralihkan saat ada pasangan masuk ke warung tenda, wajah yang familiar, mereka suami istri, istrinya bernama Latifah, tifeh gue manggilnya begitu, dia pernah dekat sama gue dulu, 4 tahun lalu, pacaran? Sepertinya bukan lebih mirip seperti HTS alias hubungan tanpa status, mungkin seperti hubungan gue sama Shopie ini, mirip, atau malah sama, ngga' lama mereka pergi setelah pesanan untuk dibawa pulang mereka siap.
“neng gue mau nanya ni...” kata gue berusaha recovery dari pemandangan yang sempat mengalihkan gue “tapi gue mau lo jawab dengan jujur...”sambung gue
“oke..emang mo nanya apa?...
“sebenarnya gue ngga mau bahas ini, kita juga udah komit untuk ngga’ bawa-bawa orang lain saat kita bersama....” Shopie diam, sepertinya dia berusaha menduga-duga apa yang akan gue tanyakan.
“sebenarnya, benar ngga’ kata orang-orang lo sama si Gunawan udah tunangan...?” kata gue, dia tersenyum, mungkin gembira karena pertanyaannya ngga’ susah atau karena gue menyebutkan nama si Gunawan.
“begini...sebenernya gue sama dia belom pernah tunangan secara resmi, cuma dia dulu pernah kasih gue cincin, naah saat itu gue anggap kita sudah tunangan, cincin itu sebagai tanda ikatan...” katanya, gue menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya, ada rasa gembira saat mendengarnya
“kalo itu sich lo belom tunangan namanya neng..” dia tertawa kecil “kalo sekarang gue beri lo cincin, berarti kita tunangan dong...” sambung gue
“emang lo mau gue kasih cincin?..” katanya sambil menatap gue dalam, gue deg-degan, ini bagian tersulit ni, bagaimana cara memberikan cincinnya ditempat umum kaya gini, tengsin bro..


“thanks ya Den cincinnya...” ujarnya saat motor sudah meluncur pulang melewati prapatan Ciseeng yang lumayan rame.
“ada motif bintang cincinnya, apa maksudnya...?” sambungnya
“bintangnya itu perlambang seperti gue memuja lo neng, seperti memuja sang bintang...” gue menjelaskan berusaha mengingat kata yang udah gue susun sore tadi, terdengar romantis ngga’ ya itu kalimat barusan?
“thanks banget, ini adalah valentine terindah yang pernah gue rasakan...” katanya, YESS!! Gue berhasil dia bilang valentine terindah, ngga’ percuma gue keluarin duit lumayan sesuai dengan kepuasan yang gue dapet, ingat selalu hari ini neng, seperti gue ngga pernah bisa melupakan lo

0 comments:

Posting Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus