Senin, 26 Oktober 2015

Antara dicintai dan Mencintai

Swanish's Love Story Part 14
 

Enak mana antara dicintai sama mencintai? Kalo menurut gue lebih enak dicintai karena dengan dicintai gue merasa dibutuhkan sebagai laki-laki, bukan membutuhkan perempuan, dicintai seperti raja dan mencintai seperti hamba sahaya yang selalu siap menelan ludah, siap disakiti, itu versi gue ya, bagaimana versi anda?
Menurut teman gue yang namanya Nickhen Ocktaviarno yang ternyata dia ngga’ bisa ngupas salak katanya lebih enak mencintai daripada dicintai ketika gue tanya apa alasannya kata dia kalo mencintai ada gereget-geregetnya, ada sensasinya, jelas gue ngga’ setuju sama pendapatnya ini.
Beda pendapat dengan Nickhen (emang kaya gini nulis namanya bukannya gue alay) menurut teman kampus gue Lestari Octaviani yang lebih seneng di panggil Via, dia bilang lebih enak di cintai daripada mencintai karena kalo dicintai selalu dapat perhatian lebih sedangkan kalo mencintai lebih banyak sedih.

Pernah suatu sore gue bertengkar sama dia, entah apa yang jadi sebab gue terlalu bete buat mengingatnya yang pasti dia marah, manyun aja sepanjang jalan kenangan, ngga’ ada manis-manisnya, sore itu gue dan dia berdiri di depan misbar bangkrut ngga’ jauh dari perapatan Ciseeng nunggu angkot berjaket atau biasanya dulu disebut mobil odong-odong beda versi dengan odong-odong zaman sekarang ya.
Shopie masih aja manyun ngga’ ada satupun omongan gue yang bisa membuang manyunnya itu, sampai akhirnya gue mengeluarkan kertas kecil berukuran kira-kira 2 x 10 cm yang gue linting seperti rokok dari tas gue, kertas ini sudah gue siapkan 2 hari yang lalu dan sengaja cari moment yang tepat untuk memberikannya, dia agak heran saat gue keluarin kertas itu.
“apa ini...?” katanya, sebuah kertas yang menjadi perwakilan dari negeri hati gue, negeri yang selalu ditindas dengan rasa sayang tak berbalas, jawab gue dalam hati
”buka aja...” jawab gue singkat, Shopie membuka lintingan kertas itu pelan-pelan, dan dibacanya tulisan yang ada di kertas itu.

Aku mencintaimu dengan sederhana, lewat kata yang tak diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu, dengan kata yang tak disampaikan awan kepada air yang menjadikannya tiada”

Suasana hening beberapa saat, dia diam, mungkin meresapi isi puisi itu, mencerna kesungguhan gue sayang sama dia, mengorbankan apapun supaya bisa tetap ada disamping dia sebagai apapun, sebagai manusia layak pakai atau sebagai bentuk yang lain.
Gue tau dia pasti dia suka puisi ini, puisi keren yang gue bajak dari sebuah majalah, ngga’ ada kata yang terlontar lagi dari mulutnya selain kata “sudahlah” mungkin maksudnya dia sudah selesai manyunnya kali,atau sudahlah jangan merayu gue terus nanti kalo gue jatuh hati gimana? astaga, ngekhayal aja gue dah. Akhirnya mobil berjaket hitam menghampiri kita dengan mesranya kitapun naik tanpa basa-basi lagi.

“sampai kapan sii lo mau terus begini Den?” katanya saat tubuh kita terguncang guncang mobil karena jalanan yang rusak.
“maksud lo?” gue ngga’ paham pertanyaan ini, karena tiba-tiba saja dia beri gue pertanyaan seperti ini padahal dari naik mobil tadi dia cuma diam saja.
“sampai kapan lo tetap bertahan seperti ini, dengan hubungan yang ngga’ jelas kaya gini, kan lo tau gue udah punya cowo'...” gue pikir dia mo nanya sampai kapan gue terguncang - guncang diatas mobil ini, salah ternyata.
“kalo ditanya sampai kapan jawabannya adalah sampai gue bosen neng, sampai gue lelah menyayangi lo, sampai gue pikir semuanya sudah cukup, sampai gue merasa sudah waktunya berhenti dengan cerita konyol kita” gue berusaha memberi jawaban seperti yang dia mau, tapi apakah ini jawaban yang dia mau?
Dia terdiam lagi, mengapa sii lo jadi diam terus neng mengapa ngga lo ucapkan aja, “gue sayang sama lo Den” kata yang gue tunggu dari zaman persilatan, coba sekali saja ucapkan neng niscaya akan gue bangunkan kuil cinta buat kita berdua menetap disana, tempat dimana bisa gue genggam senyum indah lo, sebuah tempat dimana puisi-puisi cinta tidak lagi indah karena kalah indah dengan manisnya senyuman lo.
Cerita konyol kita neng, sebuah cerita tentang kebodohan dan kebutaan, ketika rasa sayang membabi buta didalam dada


0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus