Senin, 26 Oktober 2015

Valentine’s Eve

Swanish's Love Story Part 17
 

14 Februari diperingati sebagai hari Valentine, hari kasih sayang begitu katanya, di Indonesia dan di semua belahan dunia, para pecinta dijejali dengan jargon yang demikian, walaupun sebenarnya Valentine tidak diajarkan dalam Islam, banyak mereka yang ber-KTP islam merayakan Valentine itu dikarenakan minimnya sosialisasi dari para ulama yang melarang merayakan Valentine justru yang gencarnya adalah sosialisasi untuk merayakan valentine, biasanya lewat film-film di tipi, iklan-iklan di radio, buy chocolate and something romantic, or would you be my valentine, kalimat yang sering terdengar pada valentine eve (kaya ustadz gue ya, hee)
 Doing something romance, yeeeah right!!! Bukankah Shopie suka dengan laki-laki romantis, mungkin dia adalah type cewe' yang suka disenangkan pada hari Valentine. Momentnya tepat banget ini, Valentine – Romance – Shopie, what a beautiful combination.
Gue sebenarnya ngga’ suka dengan perayaan valentine dengan alasan karena valentine bukanlah tradisi kita orang timur apalagi sebagai muslim sama sekali tidak dicontohkan oleh baginda Rasul untuk merayakan valentine, Islam mengajarkan untuk selalu menunjukan kasih sayang tidak hanya di satu hari saja.

Mengapa sii kasih sayang harus ditunjukan pada tanggal ini, gue menunjukannya setiap hari, selalu bilang sayang sama Shopie setiap hari, heee, tapi 14 februari ini tidak boleh terlewatkan begitu saja tanpa bekas, mungkin gapapa kalo gue merayakannya tahun ini saja untuk spesial untuk Shopie, tahun besok belum tentu gue masih sama-sama dia tapi ini harus jadi valentine teromantis dihidupnya, valentine yang ngga’ akan dia lupakan sampai nanti, sampai dia menutup mata, akhirnya gue memutuskan untuk merayakan valentine sekali ini saja.
Merayakan valentine kadang disama dengankan memberi cokelat kepada orang yang jadi pujaan, koq cokelat? apa yang romantis dari sebatang coklat? Menurut gue setangkai mawar lebih berarti dari coklat yang akan hilang setelah masuk kemulut dan berubah bentuk menjadi sesuatu yang tak menyenangkan dengan aroma yang ngga’ sedap. Mawarpun mungkin akan layu tapi setidaknya bisa mengungkapkan semua asa gue, mewakili setiap harap gue, menyatakan rasa sayang gue kepada dia dan bukankah dia selalu minta bunga ilalang warna kuning tua yang selalu gue berikan setiap pagi itu diganti dengan bunga mawar, ini adalah kesempatan yang tepat.
Tapi bunga saja gue pikir belum cukup, terlalu biasa, terlalu klise kayanya dah, di sinetron-sinetron dan film-film dengan tema cinta selalu ada adegan memberi mawar, harus ada sesuatu yang lebih keren dari itu, lebih indah dari mawar. Bagaimana bila sebuah cincin? I think it’s Great idea...

Malam terasa sangat lama banget datangnya, ngga’ sabar rasanya ingin ketemu dia, semua sudah gue rancang dengan sedemikian rupa, mawar yang gue beli di sebuah toko florist di daerah Pamulang udah ada didalam tas, cincin bermotif bintang akan gue berikan malam ini, semoga hal yang gue lakukan malam ini akan tetap tertanam dibenaknya sampai waktu memisahkan kita, terpisah oleh kematian atau memang karena kita tak berjodoh
Setengah delapan lebih dikit, Shopie menghampiri gue yang lagi ngobrol sama bang Uchi di dekat mobil box favorit yang diparkir didepan warung si teteh anu
“haloo...” sapa gue, dia tersenyum
hai..” katanyapulang yuu..mo nganter gue pulang ngga’ Den..” katanya lagi
iya dong...” gue mengiyakan pertanyaannya
“bang Uchi saya pulang sama Boteng ya, ngga ikut sama bang Uchi...”kata Shopie ke bang Uchi yang sedari tadi sedang menikmati benda 9 cm dimulutnya.
“oke gapapa, senang malah gue ngga’ ke Cogreg jadinya....” kata bang Uchi “eh tapi nganter si Lina gendut ya...” dia baru teringat kalo dia ternyata harus nganter teh Lina ketika orang yang mesti dianternya terlihat baru aja menghampirinya, rumah teh Lina sebelom rumah Shopie, dekat rumah Dwi tepatnya.
“yuu bang Uchi pulang...” ajak teh Lina
“bentar nunggu si Yuli, Tuti dulu....” kata bang Uchi
“owh, kebugel dulu ya...”kata Lina akhirnya pasrah, ternyata dia ngga’ bisa langsung pulang, ternyata harus keliling-keliling dulu nganter anak produksi yang lain, dan seperti biasa dia selalu terakhir.
Shopie ga pulang...?” tanya teh Lina yang berdiri ngga’ jauh dari gue
“pulang teh Lina, tapi bareng sama Deni..”kata Shopie
“mo jalan ya den, ciyeee....” teh Lina meledek ke arah gue sambil tertawa, gue pura-pura ngga’ dengar apa yang dikatakan teh Lina tadi, Shopie diam aja ngga’ ngerespons. Bang Uchi masuk ke Warung si teteh Anu mau ngopi katanya, ngantuk banget, teh Lina ikutan juga masuk ke warung bukannya mau ikutan ngopi dia mau duduk-duduk aja, pegal kakinya sedari pagi berdiri terus.

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus