Senin, 26 Oktober 2015

Sampai disini...

Swanish's Love Story Part 7
 

Memuja seorang Shopie banyak makan hatinya ternyata, sering sesak nafas menahan bara cemburu, walaupun sebenarnya sudah gue tau sebelumnya akan seperti ini jalannya hubungan gue, tetapi tetap aja gue ngga’ siap apalagi dengan banyaknya para cowo' yang ngantri mo ngajaknya jalan, ngajak makan, ditambah lagi dia orangnya selalu ingin dimengerti tanpa berusaha ngerti gue.
Banyak perbedaan pendapat yang sebenarnya sepele jadi masalah besar, hal-hal ngga’ jelas bisa jadi kembang perselisihan, padahal gue udah cukup legowo dengannya, menerima dia apa adanya, rela tersakiti, ikhlas dicabik- cabik, tapi apalah daya gue akhirnya gue juga yang kalah.
Hal yang paling sering didebatkan antara kita adalah adalah masalah aliran dalam Islam, dia sering mempermasalahkan aliran itu dan itu adalah hal yang paling gue ngga’ suka, lagi mengapa sii mesti ada aliran-aliran dalam Islam, aliran ini, aliran itu, jama’ah ini, jamaah itu yang akhirnya Islam itu menjadi pecah belah, ingat ngga’ dengan politik Belanda divide et impera? Mirip sekali dengan fenomena Islam zaman sekarang di pecah belah dulu lalu mudah untuk dihancurkan.
Islam terlihat kokoh diluar tetapi keropos didalamnya, terlihat dari fenomena yang terjadi sekarang adalah banyak pemuda Islam yang ngga’ tau pacaran yang halal itu seperti apa, mampang mumpung lagi pacaran buru-buru mengambil yang masih haram dijamah dan dimiliki, mungkin yang lebih parah gue kali, yang udah tau pacaran versi halal dan haramnya masih saja terbujuk rayu syaiton yang memakai baju pink bertuliskan CINTA, Ya Allah hamba mohon ampun atas kebodohan hamba atas ego hamba untuk mendapatkan Shopie hingga menginjak dan memasuki dunia yang belum pantas hamba pijak. Gue dan iman gue yang tipis.


"jadi sampai disini aja ni cerita kita" kata gue dengan suara serak menahan gundah
"ya.." katanya singkat, gilaaaa...hancur hati gue berkeping-keping, selama ini gue puja dia, ternyata cuma sampai disini saja, banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin gue lontarkan tapi ngga’ jadi, karena hasilnya pasti akan sama saja, kita tetap pisah.
Gue menunduk, menelan ludah, tak bisa berbuat apa-apa saat disergap rasa kecewa, semudah itu dia mengucapkannya, tidakkah dia tau ngga’ mungkin gue bendung semua rasa yang sudah sedemikian besar terhadapnya, tapi sekarang...
Sedih? iya, galau? banget...tapi gue pikir buat apa juga gue tetap bertahan dihidupnya, gue hanyalah orang ketiga, atau keempat atau kelima, setelah si kena guna-guna ama kawan, si Muhidin, si Juling, si Salam atau siapa lagi, entahlah, lagian hubungan ini ngga’ akan pernah jelas akan sampai mana, tapi tetap aja gue galaaaau...
Saat gue berusaha menuliskan semuanya kedalam sebuah tulisan, gue berusaha me-recall semua memory gue yang sudah terpendam selama puluhan tahun, terkubur dan berlumut, gue berusaha mengingat-ingat alasan mengapa hari itu dia mengusir gue dari sampingnya, tapi tak ada yang gue ingat, semuanya kabur, apa mungkin karena gue mulai pikun ya...
Ada satu yang gue ingat yang membuat hubungan kita jadi ngga’ nyaman, bukan karena wajah gue yang membuat ngga’ nyaman kalo dilihat atau karena kulit gue yang terlalu eksotik tetapi lebih kepada prinsip-prinsip yang masih berusaha gue pegang dengan gonjang ganjing iman gue yang tipis.
Shopie ngga’ suka dengan prinsip-prinsip hidup yang masih melekat di gue mungkin juga dia juga merasa kalo hubungan kita ngga’ akan sampai kemana-mana, cuma jalan ditempat sehingga dia lebih memilih membunuh mati perasaan yang baru tumbuh dengan meracuninya tanpa rasa bersalah.

Aku ngga tau apakah aku masih bisa merawat dan tetap menjaga rasa sayang dan cinta aku, kalo kamu sekarang sudah sedingin es

Aku ngga tau apakah aku akan mampu membunuh rasa sayang yang begitu cepat bersemi dan harus begitu cepat mati…

Aku ngga pernah menyesalkan something yang pernah ada diantara kita
       Aku ngga pernah menyesalkan waktu yang telat memperkenalkan kita
Aku ngga pernah menyesalkan telah menumpahkan rasa sayang setulus hati walaupun akhirnya yang aku terima cuma seember kebohongan
Dan aku ngga pernah menyesalkan rasa sayang yang tiba-tiba jadi tak peduli dan antipati karena aku sayang kamu
(sebuah catatan kecil dari buku lama yang gue temukan)


 Setelah perpisahan dari hubungan yang seumur jagung, gue berusaha merubah perlakuan gue dengan Shopie walau dengan susah payah, tidak lagi memanggil namanya Shopie sayang, gue bilang sama Shopie akan memanggilnya Jenong, seperti yang lain memanggilnya “Shopie Jenong” dan dia memanggil gue Boteng, seperti teman-teman dekat gue memanggil gue, yang pasti ngga’ bisa dirubah dengan cepat adalah perasaan gue yang masih membabi buta.




0 comments:

Posting Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus