Senin, 26 Oktober 2015

Mobil Box Favorit

Swanish's Love Story - Part 1

Perkenalkan gue adalah Deni, cowo’ ngga’ penting yang mungkin bila dilihat sekilas ngga’ ada yang menarik sama sekali, tapi bila dilihat lebih dalam tetap ngga’ ada yang menarik sepertinya, manusia tanpa skill yang berarti, cowo’ dengan kehidupan asmara yang suram, sampai SMA gue belom pernah pacaran, bukan karena gue ngga’ normal tapi belom ada perempuan yang membuat gue mempunyai keinginan buat mendekati dia, maaf abaikan kata-kata barusan, yang sebenarnya adalah gue adalah laki-laki dengan kepercayaan diri rendah, jangankan buat menyapa cewe’ tanya nama, alamatnya, nomor telepon seperti teman-teman gue lakukan, ngobrol banyak akhirnya bisa main kerumahnya lalu jadian kalo beruntung, sekedar menyapa dan berkenalan saja ngga’berani gue.
Fakta dari kata-kata diatas adalah gue adalah cowo’ cupu dengan yang ngga pede-an, belom pernah pacaran dan penakut, komplit kan gue.
Lulus SMP gue masuk ke SMA Negeri 1 Parung, atau biasanya di singkat Nevar 17, disini gue mulai berusaha menjadi cowobeneran, tentunya dengan mencari cewe’ yang bisa gue taksir, pacaran, menikah, punya anak lalu punya cucu dan meninggal bahagia dengan senyum mengembang, Eeeet kejauhan ceritanya ini.
 Cewe’ yang kurang beruntung karena gue taksir itu adalah Riki Susanti cewe’ cantik dengan lesung pipit, tomboy abis, rambutnya pendek namanya aja Riki bukan Rika, dia teman sekelas gue waktu kelas 1, tapi rupanya gue bertepuk sebelah tangan, sedih dah pokoknya kalo diceritain.
Kelas 2, ada lagi yang gue suka, tomboy juga namanya Herwindra dia tinggal di Pamulang, lebih tomboy dari Riki dengan diapun sama saja penderitaan gue, bertepuk sebelah tangan, gue maklum sebenarnya mengapa mereka tidak nge-respons, mereka ngga mungkin sreg dengan penampilan gue yang kaya gini, ngga jelas antara pengemis atau orang gila, oke girls buku ini bukan untuk menceritakan kalian ya tapi tentang pisang cokelat, sebuah roti yang manisnya ngga’ hilang selama bertahun-tahun, mungkin dibuku lain kalian akan gue ceritakan lebih jauh, itupun kalo buku ini dicetak ya, haha

Sebenarnya ini cuma sebuah cerita usang, terjadi tahun 2000an, menarik buat gue menulisnya karena disinilah gue berubah 180 derajat, dari cowo’cupu menjadi cowo’ super Pe’a yang ngga’ ada keren kerennya.

Ceritanya bermula saat gue kerja di Swanish, sebuah pabrik roti di kawasan Pedurenan, Gunung Sindur sebagai sales, sebuah profesi yang sangat menggiurkan untuk orang kere kaya gue, tapi sales disini bukannya menawar-nawarkan roti ke konsumen-konsumen atau ke warung-warung kerja gue tapi nganter roti ke agen-agen roti, istilah dikantornya jabatan gue adalah sebagai sales malam, mirip-mirip kaya perempuan malam ya, untung gue lekong haha,
Pertama kali masuk ke Swanish gue di recomended sama adik gue dia udah masuk duluan ke Swanish di bagian Pastry, bersama gue ada juga barengan sales malam yang baru masuk juga di recomended kakaknya namanya Suratno, jadilah kita berdua laki-laki sejati yang baru belajar jadi sales, mengenal roti Swanish satu persatu dari roti tawar, roti manis dan pastry dipandu sama AIwan, atasan gue di bagian distribusi, pertama kali masuk gue latihan turun kelapangan di jalur Bekasi dipandu dengan Mulyadi Pheenk sebagai salesnya dan driver bernama Bang Eko, dua hari selanjutnya gue ditetapkan sebagai sales jalur Bandung
Menyenangkan awalnya dapat jalur Bandung, secara gue kan masih norak, ngga’ pernah pergi jauh dan sekarang gue bisa keluar kota terus Parung-Bandung, What A Lovely Trip!! tapi ada juga ngga’ enaknya, nganter rotinya malam hari disaat orang-orang lagi berenang dilautan iler gue kelayaban dikampungnya
Jalur Bandung mesti berangkat jam tujuh malam atau setengah delapan paling telatnya karena jalurnya jauh, ada lagi yang ngga’ enak lagi jalur ini berangkat paling awal pulang paling belakang, kadang  jam 10 kadang jam 11 siang baru selesai dipabrik, ternyata jalur Bandung mengerikan bro
Gaji gue di Swanish waktu gue pertama kali masuk alhamdulillah sungguh luar biasa, yaitu Rp. 1.00.000.00 banyak kan angka nol-nya?, bayangkan anda bisa beli apa aja dengan uang sebanyak itu, WOW!!!, gue ingat pertama kali gajian duitnya cuma selembar duit cepe-an plastik waktu itu, siapa yang bisa bertahan dengan gaji yang begitu fantastis itu? sejujurnya gue juga ngga’ bisa bertahan tapi karena memang cari kerja susah karena bekal ijazah gue yang alakadarnya maka disinilah gue, di Swanish.
Setiap ngirim roti ke agen, setiap jalur dapet uang makan Rp. 10.000, untuk jalur dalam kota, sedangkan jalur Bandung waktu itu Rp. 15.000,- dibagi dua driver dan sales. Bayangkan, luar biasakan uang jalannya gue udah beli extra joss sama aqua juga itu duit masih nyisa, sisa botol Aqua sama bungkus Extra Jossnya. Bravo Swanish, karena telah menggaji karyawannya dengan sangat layak waktu itu.
Bukan sales saja yang digaji alakadarnya, bagian produksi juga dibayar miris antara Rp. 300.000 – Rp. 400.000,- untuk 8 jam kerja.

Jalur Bandung yang sangat mengerikan dengan jatah dua hari masuk dan satu hari libur membuat gue jadi males kerja, selalu ada alasan buat gue supaya ngga’ masuk, sakit biasanya alasan yang gue gunakan bila ditanya pak Subur supervisor gue, karena seringnya tidak masuk dan jalur Bandung yang sangat riskan karena jauhnya jarak tempuh dan kebanyakan agen disana adalah sodara - sodaranya big boss maka berdasarkan pertimbangan-pertimbangan segala macam dipindahkanlah gue ke jalur baru, jalur Tangerang.
Jalur Tangerang areanya meliputi daerah Tangerang seperti Jombang, Ciledug dan Tanah tinggi dan sekitarnya, enaknya jalur ini santai kerjanya, datang ke kantor jam 19.00 untuk ngabsen tapi berangkat ngirim roti terakhir, biasanya paling cepat jam 11 malam dan paling telat jam 5 pagi sudah kembali lagi ke pabrik.
Karena berangkat terakhir dan biasanya selesai absen ngga’ ngapa-ngapain lagi, daripada bete ngabisin waktu di pabrik, gue nongkrong -nongkrong di warung depan pabrik, warung si teteh Anu panggil aja kaya gitu ya, ngga’ tau gue teteh siapa namanya.
"den, ngikut ngga’ lo...?" kata bang Uchi setengah teriak ke gue yang lagi asyik menikmati kopi item, kenapa teriak gitu sii bang? Gerutu gue dalam hati, apa tadi dia udah manggil dan gue ngga’ dengar kali ya, Bang Uchi adalah sopir antar jemput belom lama masuk menggantikan Chevy layur, sopir sebelumnya yang sekarang jadi sopir jalur
"kemana?" kepo gue sama ajakannya bang Uchi yang tiba-tiba itu, sebelomnya dia ngga’ pernah ngajak gue
"nganterin anak produksi sekalian ke Cogreg nganterin si Jenong "
Si Jenong?, yang mana orangnya?”
”itu didalam” kata bang Uchi sambil nunjuk kedalam mobil, gue penasaran siapa sih yang disebut si Jenong ama bang Uchi,
Didalam mobil ada seorang cewe' cantik duduk disamping setir, dia ini kan cewe' yang kemarin sore sombong banget waktu digodain Syahroni, teman gue yang juga sales.
“Nong, jalan-jalan yuu ke Parung…” goda Syahroni sore itu
“punya duit berapa duit emang lo ngajak gue jalan…” begitu katanya, matre banget itu wadon dah, kata gue dalam hati.

Info: mobil yang dijadikan mobil antar jemput di Swanish itu adalah mobil box, yang kadang digunakan buat kirim roti juga, biasanya karyawan Swanish bagian produksi yang pulang malam atau masuk pagi dinihari diantar jemput pake mobil box itu, panas??? iya, ngga nyaman??? Pasti... kaya roti aja ya ditumpuk di mobil box, mobil ini digunakan untuk antar jemput karyawan produksi terutama mereka yang rumahnya di pedalaman kampung, akses ke pabrik roti Swanish bila malam tidak ada angkot yang lewat, mobil box ini ibarat dewa penolong bagi anak produksi dan mereka sangat mengidolakannya seperti gue mengidolakan Dewi Sandra #eeh
Akhirnya gue ikut bang Uchi nganterin para karyawan pulang, berkelana keliling dunia naik mobil box, menyusuri jalan jalan yang sudah relatif sepi, Rawakalong, Viktor, Nagrog, Gulusur, Cimangir, Gn. Sindur, Jampang bugel dan terakhir ke Cogreg (silahkan cek peta kabupaten Bogor kalo kalian merasa nama-nama tempatnya seperti nama sesuatu)
 Cewe' yang dipanggil dengan Jenong nama aslinya adalah Shopia, cantik, menarik,  senyumnya manis, tapi kalo masalah Jenong ngga’ tau gue jidatnya ketutup jilbab soalnya, dia tinggal di sebuah desa di kecamatan Parung, nama desanya sedikit aneh, Cogreg (kaya nama apaaa gitu), jalan menuju rumah Jenong sungguh sangat luar binasa, seperti berpetualang di negeri antah berantah, jalan rusak, berlubang besar dan dalam, bila hujan sudah pasti digenangi air, mungkin ada buaya yang tinggal disana menunggu mangsa lewat, tapi Alhamdulillah jalan eksotis nan menggoda iman yang gue ceritakan barusan sudah ngga’ bisa ditemukan lagi disana.

Baca part 2-nya ya..

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus