Senin, 26 Oktober 2015

Seraut wajah dalam lamunan

Swanish's Love Story - Part 26

Divorce

13 februari 2012, senin malam selasa waktu baru menunjukan jam 8 malam lewat dikit, rasa lapar menyiksa saat baru pulang ngajar private di Sawangan, akhirnya gue mampir ke pecel ayam di samping Bakso tete, selalu menyenangkan makan disini, selain rasa bumbunya yang khas, berbeda dengan yang lain, ada juga sebauah cerita usang yang diam-diam masih ada dan gue sembunyikan dalam hati.
Rasa lapar membuat hidangan didepan gue cepat habis, luar binasa rasanya sudah lama gue ngga’ makan pecel ayam, ngga terlalu memperhatikan sekitar karena kenikmatan dunia ini, sepertinya ada yang memperhatikan gue sedari tadi dari meja sebelah gue, Astagaaa...Jenong.
Gue menatapnya dari meja gue, dia melambaikan tangan nampak sepertinya dia mengucapkan kata halo tapi tanpa suara, waaah..jangan-jangan dia bisu sekarang, gue liet-liet sekitar jangan-jangan dia bawa bodiguard from beijing, sepertinya aman, gue menghampirinya
“hallo..” kata gue sambil menjabat tangannya, dia tersenyum
“hallo, apa kabar?” katanya, senyum manis mngembang mengiringi saat gue duduk, Ya Allah, senyum yang selalu hadir dalam mimpi-mimpi gue sekarang tepat ada didepan mata gue.
“sendirian?” kata gue memastikan semuanya aman, gue ngga’ mau lagi asyik-asyik ngobrol nanti ditembak mati disini, ngga enak kalo nanti beritanya ditulis di koran dengan judul laki-laki ga’ jelas ditembak mati saat makan di pecel ayam” salah-salah nanti orang baca “ayam ditembak mati saat makan”.
“yup, aku sendirian...” dia menunduk saat mengatakannya, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menyergapnya
“ini seperti sudah direncanakan ya, aku jarang banget makan disini bahkan ngga’ pernah lagi sejak kita sudah ngga bersama, begitu aku makan disini lagi setelah sekian lama dan ketemu kamu disini neng..” dia tak mengatakan apa-apa, cuma memandang gue begitu dalam, seperti ada sesuatu dimatanya, belek? Bukan lebih mirip dengan sesuatu yang terpendam begitu lama.
“aku sengaja datang kemari..” kata dia dengan suara lirih, gue mulai mencium sesuatu yang ngga’ enak ini, Sengaja?
“sudah beberapa hari yang lalu aku udah merencanakan buat datang kesini, cuma nunggu malam yang tepat aja..” katanya
“waah, kaya mo kemana gitu rencananya, ini kan cuma sekedar datang ke sini..”
“memang, tapi apa yang terjadi beberapa tahun kebelakanglah yang membuat aku datang lagi kesini..” gue agak tersentak saat dia mengatakan kalimat itu, apa yang terjadi memang?, ngga mungkin dia masih mengingat malam valentine beberapa tahun lalu saat kita masih bersama.
“apa yang terjadi memang disini...?” rasa ingin tahu menghimpit dalam dada gue rasanya
“entah kamu masih ingat apa ngga Den, tapi aku masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi malam itu, saat malam valentine kita..” astagaaa, ini kata yang gue tunggu sebenarnya, dan dia menyebutnya malam valentine kita, gue diam bingung apa yang mesti gue omongin.
“valentine terindah dihidup aku..” katanya, belum bisa gue netralisir rasa tak percaya gue, bertemu dia disini dan membicarakan masa lalu.
“lo udah melupakan semua ya..?” katanya karena melihat gue tetap diam
“masih, masih ingat koq bahkan tiap kata yang aku ucapkan malam itu, setiap kata yang kamu ucapkan, setiap senyuman, bahkan setiap kedipan mata kamu, masih terasa baru kemarin semuanya terjadi...” kata gue akhirnya, dia tersenyum.
“aku pikir kamu sudah melupakan semuanya...”
“bukan lupa, tepatnya berusaha melupakan...”kata gue lirih, tiba-tiba rasa sakit yang dulu mencabik cabik kini hadir lagi.
“mengapa?, biarkan saja cerita itu tetap ada sebagai pemanis masa muda kita....”
“pemanis ya, gue pikir cerita kita cuma pemanis buatan neng, yang akan membuat efek negatif ke dalam tubuh..”
koq ngomongnya kaya gitu sii....?” dia menggenggam tangan gue, tapi cepat-cepat gue tarik tangan gue, takut tiba-tiba ada samurai yang mampir ke tangan gue yang membuat tangan gue copot dari tempatnya, dia istri orang Deni...ngga enak kan kalo gue ngga ada tangan, gimana gue mau ngupil, masa pake kaki.., dia tersenyum melihat gue menarik tangan.
“maaf....” kata gue, keren banget ya gue, ini pertama kali gue lakukan, menolak genggaman tangannya
Shopie....maaf, jujur aku merindukan saat-saat kita masih bersama, aku khayalkan pertemuan ini, disini...walupun aku ngga’ bisa pungkiri kalo mengingat senyum kamu berarti mengingat semua racun yang kamu berikan ke aku”
“racun?”
“ya racun...entah racun apa yang kamu berikan, aku ngga’ bisa recovery selama bertahun-tahun, selalu berkhayal kalo ternyata akhirnya kita bisa bersama, selalu berharap kalo akhirnya kamu memutuskan untuk kembali kedunia kita...” haduuh, galau jadinya gue, dia diam, gue diam.
Dia berusaha menggenggam tangan gue lagi, kali ini gue biarkan saja, kehangatan mengalir dari tangan ke otak gue yang membuat flashback ke masa-masa lalu saat pisang cokelat masih terasa sangat manis.
“maaf...maaf banget atas semuanya, aku tau aku egois, hanya memikirkan kebahagian aku saja, tanpa memikirkan kebahagiaan orang yang sayang sama aku, tanpa memikirkan kebahagian kamu, andai saja bisa kuperbaiki semua dari awal..” katanya sambil menundukan wajahnya, baru kali ini gue mendengar hal seperti ini diucapkannya, biasanya dia tak pernah meminta maaf, merasa selalu benar, there’s something wrong with her brain I think
“aku pikir ga’ ada gunanya juga kita bahas lagi hal ini, ga akan merubah apa yang terjadi...gimana keluarga kamu?” gue berusaha mengalihkan pembicaraan, ngga nyaman lama-lama terjebak dalam ruang nostalgia.
“aku ngga’ berhasil..” katanya sambil menunduk, ternyata ngga berhasil gue mengalihkan pembicaraan sepertinya malah terjerembab kedalam obrolan yang lebih dalam
ga berhasil?, maksud kamu?..”
“yaa ga berhasil...divorce...” dia mengangkat mukanya, gue lihat matanya berkaca-kaca, bukankah dia perempuan besi yang tak pernah menitikkan airmatanya sama sekali, mungkin sekarang dia menghadapi masalah yang diambang batas kemampuannya.
Divorce, kata yang selalu ingin gue dengar, jujur gue berdoa supaya hal ini terrjadi dengan rumah tangga dia, jahat ya gue, egois banget, bukan menginginkan dia ngga berhasil dalam rumah tangganya, gue cuma ingin dia balik ke gue, itu aja..sekarang hal ini terjadi, apa yang harus gue lakukan?.
“Kok bisa neng?..”
“ya begitulah, cinta kadang memang ngga’ bisa dimengerti, seseorang yang dipilih dan dianggap tepat ternyata akhirnya menyakiti, dan akhirnya aku hanya menapaki jejak-jejak masa lalu dan berharap bisa menemukan kedamaian dan membuang jauh rasa sakit ini...”
“dan kamu menapaki jejak-jejak masa lalu kita...”
“yaa begitulah, mendamaikan pikiran aku, sejenak hilang semua beban yang mulai menghimpit berbulan-bulan lalu, menyenangkan melihat kamu lagi, melihat kamu masih hidup...” katanya sambil tersenyum, gue tertawa, jadi ingat dulu gue pernah bilang ngga’ bisa hidup tanpa dia, lucu ya ternyata gue sekarang masih hidup, sehat wal afiat dan bisa menulis buku ini.
“tadinya aku mau mati neng, tapi ngga’ jadi karena ngga’ suka nanti dibungkus dengan kain kain kafan yang putih..” dia mendengarkan dengan penasaran
“teruus, maunya gimana...?”
“gimana kalo warna biru, mungkin menarik, aku suka warna biru...” kata gue, dia tertawa
“terus kalo aku suka warna pink, nanti kain kafannya warna pink gitu..”katanya sambil tertawa
pink polkadot gimana?..” dia tertawa lagi, moment-moment yang pernah terlewatkan dan selalu jadi hal mewah adalah melihatnya tertawa.
“macam-macam aja kamu, kalo pink polkadot nanti pocongnya ga serem lagi dong, malah unyu....” kita tertawa ga’ peduli dengan beberapa pasang mata yang memperhatikan dimeja-meja sebelah.
“tadinya aku mau mati neng, tapi bagaimana caranya itu pertanyaannya, kalo aku bunuh diri takut dosa, kalo mati wajar ngga’ mungkin karena aku ga tau kapan jatah matiku diberikan, sempet kepikiran gimana kalo aku mati karena sakit aja, tapi aku pikir sakit apa ya, pas cek up ke dokter jantung sehat jadi ga mungkin aku mati karena sakit jantung, paru-paru sehat jadi ga mungkin mati karena sakiit paru-paru atau TBC, sakit yang aku derita waktu itu ya panu, gimana kalo aku mati karena sakit panu aja, ga keren banget kayanya dah..”
“haha, aneh banget sii kamu...” senang bisa membuat senyum mengembang dibibirnya
“tapi satu hal yang kamu harus tau neng...setelah kamu pergi aku bertahan mati-matian supaya ngga menjadi gila...” dia menunduk mendengar kalimat itu
“maaf ya...”
“ga’ ada yang perlu dimaafkan koq, semuanya ada hikmahnya...kita ambil saja hikmah dibalik semua kejadian ini...”
“hikmahnya?”
“iya, hikmah dari kejadian ini, hikmah dari perpisahan kita beberapa tahun lalu, perpisahan kamu dengan pilihan kamu...”
“aku belum bisa memetik hikmah dari perpisahan dengan dia...”
“coba kamu pikir deh, aku kasih gambaran ni ya, hikmah yang bisa kamu petik, satu, dengan kamu berpisah dengan dia, kamu bisa bertemu aku lagi disini dan sumpah demi apapun ini menyenangkan sekali buat aku, kedua, kamu jadi tau manusia seperti apa dia, ketiga, mungkin kamu bisa menemukan orang yang lebih baik dari dia...”
“begitu ya...?”
iya dong neng, memang perlu otak yang jernih untuk bisa memetik hikmah, ga kaya otak kamu yang lagi kacau...”
“aku ga bisa berpikir jernih beberapa bulan ini, otak kacau beliau, yang ada cuma rasa benci, rasa kecewa karena dikhianati..”
“sudahlah...ngga’ usah dibahas lagi cuma bikin otak pegal aja kan..”
“iya memang...”
“naah itu, cerita yang menyenangkan saja..”
“menyenangkan? Seperti apa?
“seperti ketemu aku disini, haha...”
Ngga terasa sudah sejam lebih ngobrol bersamanya, jam sudah menunjukan jam 10 malam lewat dikit

kamu mau anterin aku pulang?” katanya sambil melihat jam tangan
“aman ga?..”
“aman tenang aja, lagian cuma anter pulang kan...”
“bukan begitu, pandangan mata orang masih bisa aku bohongi tapi kalo peluru yang  menembus dada ga bisa ditolak atau tiba-tiba nanti aku muntah keluar kodok kan ga banget neng..”
“tenang aja ngga koq, kita udah sepakat ngga’ akan ganggu hidup masing-masing setelah divorce...”

Motor berhenti didepan rumah orangtuanya, sebuah tempat yang sama dengan yang ada di bayangan otak gue beberapa tahun lalu, terbersit kenangan-kenangan manis yang pernah terjadi disini.
Setelah berpisah dengan laki-laki pilihannya Sophie memutuskan sementara untuk tinggal dulu dirumah orangtuanya, ngga banyak barang-barang yang dibawanya dari rumahnya disana, cuma pakaiannya beberapa dan pakaian anaknya.
“well, I think its time to say goodbye...” kata gue sambil mengulurkan tangan untuk pamitan, Sophie diam dia mengulurkan tangan kirinya, sebuah tanda kalo dia ngga’ mengizinkan gue untuk pergi, dulu kita sering melakukan jabat tangan seperti ini.
“duduk sebentar...’katanya
“tapi sudah malam, ga enak neng...”
“sebentar saja ada yang ingin aku ceritakan..” katanya, waah kayanya serius banget ini, sedikit deg-degan mendengar dia bicara seperti itu, dia mengajak mengobrol di teras rumahnya.
Beberapa cuma terdengar gemerisik daun bambu didepan rumahnya ditiup gelisah angin malam, dia menyandarkan kepalanya di bahu gue, Oh my god!!
“setelah semua yang terjadi beberapa tahun lalu, izinkan aku untuk meminta maaf..”
“Sudahlah neng, ngga penting lagi....aku ga terlalu mempermasalahkan lagi hal itu, sudah hampir aku lupakan semuanya...”
“melupakan aku juga...?”
“itu lain ceritanya....kamu tetap yang terindah yang pernah hadir dihidup aku..”
“bener?”
“beneran, I mean it....”
“Deni, aku pernah berpikir untuk kembali lagi ke dunia kita...”
“aku juga pernah berpikir kesitu, sering sekali malah...”
“tapi aku memkirkannya lagi sekarang...memikirkan untuk kembali ke dunia kita..” terkejut gue mendengar apa yang dikatakannya, kembali kedunia kita, menyenangkan sekali mendengarnya.
“Sophie...kalimat itu ingin sekali aku dengar keluar dari mulut kamu, kembali ke dunia kita, mulai dari seminggu kamu menikah, sebulan, dua bulan, tiga bulan, setahun, dua tahun, dan akhirnya aku memutuskan ngga akan menunggu kamu lagi, karena aku yakin kamu ngga’ pernah bisa merasakan apa yang aku rasakan waktu itu yaitu kesepian, hidup kamu menjadi indah dengan kehadiran orang yang kamu cinta disisi kamu, sedangkan aku mesti bertahan untuk tetap waras di siksa sepi..” Sophie diam mendengarnya
“aku ingin sekali kembali ke dunia kita, tapi aku ngga’ bisa sekarang, tangan kakiku terikat oleh ikatan sakral” sambung gue, Sophie masih diam
“kamu masih sayang sama aku...?” katanya akhirnya
“aku sayang kamu, cinta kamu, tapi itu beberapa tahun lalu, walaupun ga bisa aku ingkari bayangan kamu masih mendatangi tidurku..”
“kamu ngga mau kembali kedunia kita karena tubuhku sudah terjamah laki-laki lain..?”
“ngga...bukan itu, aku punya dunia baru yang dipenuhi canda anakku Albanna, Elkamal dan Kaysa, aku ingin sekali jadi ayah yang baik untuk mereka...” sepi kembali hadir diantara kita beberapa lama, mungkin kata-kata gue barusan ngga enak terdengar, maaf ya neng.
“sepertinya dunia baru kamu bahagia ya...”
“tentu dong, seperti yang kamu dengar...kamu tau kebahagian itu sederhana, melihat senyum anak -anakku saja sudah cukup membahagiakan” kata gue
aku iri dengan kamu...” lirihnya, aku tertawa getir karena terjebak diruang nostalgia yang ngga’ ingin gue tinggalkan dan gue mengingkarinya malam ini.

Anjriit!! Motor di belakang gue klakson keras banget ternyata gue bawa motor terlalu tengah, klakson itu membuyarkan lamunan gue yang lagi asyik-asyiknya
“kalo bawa motor jangan bengong woyy!!!” katanya sambil nge-gas sekencang-kencangnya melewati motor gue, dalam hitungan detik motor sial itu sudah tak terlihat
Kebiasaan gue kalo bawa motor, lamunan kemana-mana, segala macam mampir ke otak, buat hiburan dijalan, biar ngga bete kalo naik motor, Awas!!, jangan lakukan hal ini tanpa pengawasan ahli!!

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus