Senin, 26 Oktober 2015

Bangsat lo Cong!!!

Swanish's Love Story - Part 23

HAMPA, itulah yang gue rasakan semenjak dia telah dilamar, tidak ada semangat hidup sama sekali tapi gue harus kuat setegar batu karang seperti kata dia, berusaha menghibur diri sendiri, berusaha tersenyum didepan orang lain seolah ngga’ ada apa-apa, hampir ngga’ ada yang tau bagaimana perasaan gue yang sebenarnya, di floorpun Shopie tak berkata apa-apa, inilah akhir semuanya, kuatkan hamba ya Allah

Shopie masih menyempatkan diri untuk pulang dengan gue, walaupun aneh rasanya duduk disampingnya sekarang karena bukan lagi rasa sayang yang menggebu yang biasa gue rasakan bila duduk dekat dia, tapi rasa sedih dan kehilangan yang kini menyelimuti, ingin rasanya gue memeluk dia buat yang terakhir kali, ingin rasanya gue minta dia untuk tetap berada disamping gue, tapi sepertinya itu sudah ngga mungkin lagi
Andaikan saja ada tombol replay supaya bisa gue perbaiki semua dari awal supaya akhirnya tidak sepahit ini, atau setidaknya ada tombol pause supaya dia tidak akan pernah pergi jauh, I wish...

Shopie mengenggam tangan gue erat-erat dan kadang menempelkan tangannya ke dagu gue seperti yang selalu dia lakukan, hal seperti ini akan menjadi hal mewah nanti atau mungkin hal yang tak ternilai harganya.
“gue ingin nanti lo datang Den saat gue nikah..” katanya, entah apa yang ada dipikirannya saat ini, meminta gue datang ke pernikahan dia, menyaksikan dia berjanji suci di depan penghulu dengan lelaki lain adalah sebuah hal paling bodoh di dunia.
“gue yakin lo ngga’ akan datang..” sambungnya, entah sanggup apa ngga gue nanti
“iya..gue datang.....” ini adalah sebuah jawaban paling bodoh, menjanjikan hal yang ngga’ mungkin gue lakukan.

Mati lampu sepanjang jalan, sampai ke Cogreg pun gulap gulita, biasanya yang tetap menyala lampunya mulai dari perapatan ciseeng ke arah Jampang, Rumpin dan Parung, mungkin ada pohon yang tumbang atau gardu yang terbakar sehingga aliran listrik diputus dulu soalnya sore tadi hujan deras banget.
Mobil berhenti didepan gang, gulap gulita dan jalan becek, biasanya gue biarkan Shopie pulang sendiri, kali ini gue ngga’ tega melihat jalan yang gelap, akhirnya gue turun dari mobil meninggalkan bang Uchi sama Otib dimobil untuk mengantar Shopie pulang
“anterin sono teng si Jenong, sampein kerumah...” kata bang Uchi saat gue udah turun dari mobil, Shopie mengucapkan terima kasih ke bang Uchi atas tumpangannya.
Tak banyak kata yang keluar dari mulut gue saat menyusuri jalan gelap gulita kearah rumah Shopie hanya merespons kata-kata Shopie alakadarnya, jarak dari depan sampe depan gang sampe rumahnya sekitar 10 menit jalan kaki, mungkin malam ini akan lebih lama karena jalannya gelap, gue ngga’ bawa benda apapun untuk menerangi jalan, sesuatu yang selalu menerangi jalan hidup gue sekarang sudah redup.
Lewat kebun bambu depan rumah Shopie gue pikir sebuah pilihan yang buruk karena gelapnya banget, tapi Shopie malah mengajak untuk melewatinya, lebih dekat katanya. Rumahnya udah sekitar 5 meter didepan tapi yang terlihat hanya cahaya lilin disana, kita masih menyusuri kebun bambu.
“Neng...pulang sama siapa..?” terdengar nyokapnya memanggil dari kejauhan, kok dia tau ya kalo anaknya yang pulang, gue ngga’ melihat nyokapnya ada disebelah mana, hanya terdengar suaranya saja barusan.
“sama teman eneng...” katanya menjawab nyokapnya, teman? Oke fine!
“udah sampe sini aja Den..” kata Shopie, gue mengiyakan, sejak duduk disampingnya tadi hati gue ngga’ karuan, campur aduk antara galau dan sedih, kehilangan dan kehampaan,  ga’ ada apa-apa diotak gue selain rasa-rasa itu, tidak gue perhatikan dia sudah berapa jauh dari gue yang pasti gue tetap memandang dia hilang ditelan gelap dan gue tetap bertahan disini, ditengah pohon bambu dengan pikiran kosong.
Anjriit!! Ada yang mendorong gue ke belakang, gue lihat kiri kanan gue, ngga’ ada siapa-siapa disini, haduuh ngga beres ini, ngga’ tau apa kalo gue lagi galau segala digodain lagi, awas lo nanti kalo lagi galau gue godain, syetan, kuntilanak, pocong, genderuwo, atau siapapun elo, tunggu pembalasan gue di bukit tengkorak dua puluh lima tahun yang akan datang.
Bulu kuduk mulai berdiri, rasanya gue ingin lari, ngga...ngga’...gue bukan laki-laki pengecut yang takut sama yang begituan, tapi gimana kalo jalan cepet gapapa kali ya, bulu udah merinding semua ini, kabuuuur...!!!
Sudah mau sampai ini, sudah masuk ke bagian banyak rumah lagi ini, seorang warga yang ngga’ ada mukanya (ngga’ keliatan gara-gara gelap) curiga melihat gue yang pake t-shirt putih keluar dari kegelapan.
“wooy...” katanya, entah menyapa atau meledek itu atau malah ngajak berantem
“eeit...” kata gue, jawaban yang ngga’ jelas buat pertanyaan yang ngga’ jelas, jadi seri kan kita men?

Sampai juga akhirnya gue dimobil, nampak bang Uchi lagi ngadu bako sama Otib dimobil sambil ngobrol, mereka terlihat sedikit terkejut melihat gue.
“mengapa lo den? Muka pucat gitu, abis liet syetan ya...” kata bang Uchi, gue langsung naik ke mobil lalu tutup pintu mobil.
“ada yang jorogin gue tadi didepan rumah Jenong...”kata gue sambil memakai jaket
“siapa...?” kata Otib
“ya ngga tau, ngga’ ada, ngga’ keliatan...” jelas gue, mereka diam, dan saling memandang bang Uchi pun segera membawa mobil pergi meninggalkan TKP, meninggalkan pocong, bangsat lo cong!!! Atau siapapun lo...


Peristiwa semalam ditengah pohon bambu ngga’ gue ceritain sama Shopie, buat apa juga kalo gue ceritain
“lo katanya di jorogin syetan ya Den kemarin..?” katanya saat gue lagi ngecek roti jalur, pasti ada yang cerita ini, kalo ngga Otib ya pasti bang Uchi, atau mungkin si pocong yang sudah cerita
“nong, tau ga lo semalem gue jorogin teman lo pas ditengah-tengah pohon bambu, mukanya kaget getoo...” mungkin kaya gini kalo si Pocong yang cerita dengan gaya alaynya.
“kata siapa?” tanya gue untuk memastikan siapa sebenarnya yang cerita, Otib, bang Uchi atau si Pocong
“Otib....” kata Shopie, “bener Den..?” Shopie penasaran karna gue ngga’ terlalu merespons pertanyaannya
“iyaa..” kata gue, sebenarnya ada keraguan di hati gue sebenernya gue dijorogin syetan apa gue kepleset kulit pisang yang dibuang kuntilanak, #eet ngaco, pasti ada penjelasan yang masuk akal untuk menjelaskannya.
Buat syetan, kuntilanak, pocong, genduruwo atau apapun kalian mohon maaf ya gue ngga’ terlalu spesifik menceritakan kalian di cerita ini, mungkinn nanti di buku lainnya.

Roti jalur Bandung udah siap berangkat, gue isi faktur penjualan sesuai dengan PO yang ada, Shopie ada didepan gue, ngga’ ada yang dikerjakannya cuma duduk didepan gue, mungkin menikmati saat-saat terakhir bersama gue, ngga’ mungkin, gue pikir dia bahagia koq dengan si Gunawan yang sebentar lagi akan jadi suaminya, Beruntungnya lo bro, gue akan mengucapkan selamat ke lo tapi dengan middle hand up!! Fuck Off...
“Den, gue ingin nanti lo datang ya di malam gue nikah...” katanya pelan, ya Allah apa yang ada dipikiran Shopie, mengapa dia ingin gue menyaksikan pernikahannya, prosesi sakral yang akan merebut dia dari hidup gue, belom cukupkah lo mencabik-cabik gue sampai sehancur ini mengapa ngga’ sekalian aja lo mutilasi hati gue menjadi potongan-potongan kecil biar puas.
Memang gue pernah bilang akan datang saat lo nikah, tapi sepertinya itu ngga bisa gue pertanggung jawabkan.

Love is to have and to hold

0 comments:

Posting Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus