Senin, 26 Oktober 2015

Aku Hamil???

Swanish's Love Story Part 8
 

Gue duduk sendirian di warung si teteh Anu, menikmati kesendirian dengan ditemani sahabat gue yang paling mengerti suasana hati gue, kopi cap teko, memikirkan apa yang terjadi kemarin, mengapa gue jatuh hati kepada seorang cewe’ seperti itu, cewe’ ngga baik menurut Syahroni, cewe’ yang bersebrangan prinsip sama gue, tapi dialah yang membuat gairah hidup gue menjadi menggebu, belom pernah gue jatuh hati kepada perempuan dengan begitu gilanya, rela jadi orang yang ngga jelas di hidupnya hanya agar dekat dengannya, dasar bego...Astaghfirullah....apakah memang kalo Jatuh hati seperti ini ya Allah?.
Sedikit teralihkan pikiran gue ketika Syarif Bolot meminta dibuatkan mie goreng oleh nenek yang bantu-bantu di warung si teteh Anu dan dia yang salah cara menyajikannya.
“haduuuh neek, kalo mie goreng jangan di pake-in kuah….” ujarnya kepada sang nenek yang disambut dengan senyumnya mempesona, Syarif Bolot manyun aja, tapi sepertinya no problem buat dia karena di makan juga itu mie goreng kuah, disampingnya nampak teh susu kegemarannya yang hampir tandas.

Mengapa gue ngga’ cari cewe’ yang lain aja ya, untuk mengobati luka lebam hati ini perhatian  gue mesti dialihkan ke orang lain, cari gebetan baru, yang lebih cantik, lebih menarik dan harus bisa menjadi pengobat luka, tapi siapa...sementara ini gue belum tertarik move on dengan orang baru.

Jauh dengan Shopie tidak membuat gue kehilangan semangat kerja karena kemarin saat dia mengusir gue dari dunia mimpi gue bertekad untuk membuat dia merasa kehilangan gue, walaupun jujur gue yang kehilangan dia bangeeet. Di Swanish banyak banget cewe' - cewe' cantik dan menarik walaupun mungkin ngga’ ada yang seperti dia tapi mungkin bisa buat manas-manasin dan membuat dia sedikit gerah kalo gue dekat dengan mereka.
Sedikit aneh sii emang jadinya hidup di Swanish, gue yang biasanya dekat dengan Shopie, bercanda, bercerita, menghabiskan malam berdua, tapi sekarang ketemu di floor nanya juga ngga, risih rasanya, ingin rasanya gue tarik tangannya lalu gue bisikan  di  telinganya kalo gue kangen sama dia, tapi ngga’ gue lakukan itu...jaim dikit dong gue, gue harus buat dia menyesal karena meninggalkan gue.

Seperti biasa gue memulai kerja gue dengan nongkrong di warung siteteh Anu, setelah ngabsen tentunya, mo ngecek roti jalur gue belom lengkap roti tawarnya, kalo nanya sama Bukhori yang ternyata nama aslinya Bohari itu dia selalu bilang
"mo kemana sii buru-buru amat, Belanda aja masih jauh.." begitu katanya, ngga’ nyambung sii antara minta roti sama Belanda, kecuali gue minta rotinya sama Belanda kali,  tapi begitulah selalu jawaban dia kalo gue minta roti jalur gue disiapin. kembali ke kopi gue yang sedang nikmat-nikmatnya guys, betewe kopi yang gue minum ini bukan kopi yang biasanya ada iklannya di tipi, bukan kopi ayam berak, bukan kopi kapal aer, tapi kopi cap teko, caffeinnya tinggi banget, otak langsung nyaman dibuatnya, kopi ini kayanya cuman ada didaerah Bogor aja deh, soalnya dibeberapa tempat luar kota yang gue sambangin ngga’ ada kopi merk ini.
Saat gue menulis buku ini gue sudah berhenti menikmati Kopi cap Teko dan kopi item lainnya karena sering terkena typhus dikarenakan gaya ngopi gue yang membabi buta dan pe’a, menurut dokter Bo’im karena seringnya thypus gue kena Hepatitis A dan akhirnya dirawat di RSUD Cibinong pada bulan puasa tahun 2014, berusaha mengalihkan gaya hidup dari kopi item ke kopi putih ternyata sama saja, abis lebaran, 26 Juli 2015 gue sakit lagi, kombinasi kelelahan dan kopi putih kembali membuat gue terkapar dalam tiga minggu gue nginap di tiga hotel dengan nama depan rumah sakit, and finally no coffe anymore, menikmati susu saja yang selalu menggemaskan untuk diminum

Kopi belom abis, mie goreng datang plus nasi diatasnya, Super sekali....akhir-akhir ini gue sering melakukan ini, ngopi terus makan mie, kebiasaan yang ngga’ baik memang, ini supaya gue gemuk, bahkan, gue bela-belain makan obat nafsu makan supaya nafsu makan gue menggila, gue ngga’ mau terlihat kurus, gue ngga’ terlihat menderita gara-gara pisah sama Shopie, eeet Shopie lagi kan yang ada di otak gue.
Udin + Udin datang ke warung, dengan gaya khas mereka masing-masing, nama mereka sama tapi profesi mereka beda.
Udin 1, jabatan sales malam, tinggal di Cibinong, kecamatan Gn. Sindur, tinggi 160cm biasa dipanggil Udin sales, pacaran ama Dona, Udin 2, tinggal di Pedurenan, kecamatan Gn.sindur, tinggi 165 cm, biasa dipanggil Udin sopir, kadang juga Udin dongdot, status menikah, gaya mereka sama aja, sama-sama playboy, Udin sales ada beberapa cewe' yang dekat dengannya, ada Tiyar anak produksi Pastry, Parni, juga anak Pastry, ada Dona anak roti manis, sedangkan Udin supir yang gue tau sii dia banyak dekat ama cewe', diantaranya Desti anak Gn.sindur, tapi ternyata ngga juga deng, Desti itu pacarnya si Eko. salah gue, nama Desti gue samarkan, yang bersangkutan minta namanya ngga’ ditulis disini, jadi gue samarkan saja jadi Desti, tadinya gue mo hapus aja namanya, tapi nanti namanya akan jadi sangat penting di sekuel buku ini (niatnya begitu)
Ada yang menarik dari teman gue Udin sales saat dia terjebak dengan cinta segi 4, dia pacari sekaligus 3 orang cewe’ yaitu Dona, Parni dan Tiyar, yang lucunya saat Tiur mengaku hamil dengan menunjukan tespek ke gue dan juga ke yang lain (emang ngapain saja mereka koq bisa hamil ya?...) Udin sales gelagapan begitu tau apa yang terjadi, tidak bisa disembunyikan diwajahnya dengan apa yang terjadi, walaupun dia berusaha menutupinya.
Seminggu kemudian Udin sales memberi Tiyar uang dan dia meminta digugurkan saja kandungannya, belakangan gue baru tau kalo ternyata Tiyar cuma berbohong saja tentang kehamilannya, tespek yang digunakannya adalah tespek bekas tes kehamilan temannya, gilaa dia membohongi banyak orang supaya memuluskan ceritanya, supaya Udin sales memberinya uang mungkin, Jujur gue sii malu kalo cerita-cerita tentang kehamilan gue apalagi kalo ternyata gue hamil diluar nikah, lagian mana ada laki-laki yang mau ngehamilin gue, #eeet..
Sejak peristiwa kehamilan palsu Tiyar, Udin sales menjauhinya, Tiyar-pun jarang sekali gabung dengan kita lagi seperti yang selalu dia lakukan sebelumnya, sales dan sopir malam, kurang lebih sebulan selanjutnya Tiyar keluar dari Swanish.

Oh ya, buat kalian yang ingin tau Gunung Sindur itu gunungnya seperti apa, besar atau kecil, simpan pertanyaan kalian sampai kalian liet sendiri gunung sindur itu, Gunung Sindur itu sangat menggegerkan dunia persilatan. karena gunungnya udah dipindahin ke Jakarta, ke BSD, entah kemana lagi, mungkin ke Belanda juga buat bikin dam, Gunung Sindur telah tiada berpuluh – puluh tahun lalu karena tercekik eksploitasi zaman.

0 comments:

Poskan Komentar

sempatkan untuk komentar bentar ya... ;)

luvne.com template blogger cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com resep bolu kukus